26872_image-1_6_960x340

Di pagi buta, sekitar pukul 3, gedoran pintu dan teriakan keras memecah kesunyian di kediaman keluarga Tamimi di Nabi Saleh, sebuah desa di pinggiran Tepi Barat, Palestina, Selasa 20 Desember. Saat pintu dibukakan sang ayah, Bassem Tamimi, 30-an serdadu pendudukan Israel merangsek masuk ke dalam rumah.

Tentara Israel kemudian memaksa keluarga itu masuk ke dalam sebuah kamar lalu menggeledah seisi rumah. Mereka kemudian menyita laptop, komputer, dan telepon genggam milik anggota keluarga Tamimi, meninggalkan rumah bak kapal pecah: berantakan.

Tak cukup, serdadu kemudian menangkap anak gadis keluarga itu, Ahed Tamimi. Ahed, 16 tahun, digelandang dengan tangan terborgol ke jip militer Israel. “Tidaklah mudah bagi seorang ayah menyaksikan tentara menggerebek rumah di pagi buta dan membawa pergi anak perempuannya,” ujar Bassem mengisahkan penangkapan Ahed kepada Aljazeera.

Di Nabi Saleh, keluarga Tamimi terkenal dengan aktivisme mereka melawan pendudukan Israel. Bassem sudah keluar masuk terungku Israel sejak 2012. Bahkan, Ahed sudah terlibat dalam sejumlah unjuk rasa anti-pendudukan sejak usia 9 tahun.

Di setiap aksi, Ahed tak mengenal takut. Dia kerap berada di barisan terdepan, meneriaki tentara Israel yang bersenjata lengkap. Foto-foto keberanian Ahed pun menyebar di internet.

Salah satu yang termasyhur adalah saat dia, yang masih berusia 9 tahun, melayangkan tangannya hendak meninju serdadu Israel. Berkat keberaniannya, Ahed yang bernampilan lebih mirip seorang rocker itu seakan mendapatkan status ikon perlawanan dari Nabi Saleh. Pada usia 13 tahun, dia memperoleh penghargaan Handala Courage Award di Turki (Handala adalah tokoh kartun ciptaan Naji Ali yang menjadi simbol perlawanan Palestina).the-little-ahed-tamimi

Kepada Aljazeera, juru bicara militer Israel–yang tak disebutkan namanya–mengatakan tentara sebenarnya sudah gerah dengan aksi keluarga Tamimi. Militer menuding keluarga itu seringkali mengorganisasi anak-anak Palestina untuk berunjuk rasa sambil melempari serdadu dengan batu dari kediaman mereka.

Berbeda dengan ayahnya Bassem, Ahed belum sekalipunmencicipi dinginnya sel Israel hingga insiden Jumat 15 Desember. Menurut Bassem, saat itu, Ahed mengikuti aksi demonstrasi mengecam pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Jerusalem ibukota Israel. Namun, tentara menghadapi aksi itu dengan menembakkan peluru-peluru gas air ke arah demonstran hingga menghancurkan jendela-jendela kediaman Tamimi.

Geram dengan tindakan militer Israel–sekaligus dipicu penembakan militer sebelumnya atas sepupunya Muhammad hingga koma–Ahed menendang dan menempeleng seorang serdadu, meminta militer meninggalkan desanya. Insiden itu direkam militer dan disebarkan melalui akun Twitter berbahasa Ibrani untuk mendapatkan dukungan publik Israel.

Kontan sejumlah elite Zionis meminta militer menangkap Ahed. Salah satunya Naftali Bennet, Menteri Pendidikan Israel. Bennet menyatakan Ahed dan sejumlah perempuan yang tampak dalam cuplikan video itu harus ditangkap dan ditahan di penjara Israel seumur hidup.

Namun, Bassem menepis video itu dan menganggapnya alat propaganda Israel semata. Dia bilang, video itu tidak menampilkan kejadian secara utuh, yakni ketika militer menembakkan peluru gas air mata ke arah demonstran.

Perkembangan kejadian ini memburuk bagi keluarga Tamimi. Nariman, ibu Ahed, yang hendak mendampingi anaknya dalam interogasi malah kemudian ikut ditahan. Bahkan, Bassem yang datang ke pengadilan untuk menyaksikan sidang awal Ahed, Rabu 20 Desember, bernasib serupa: menjadi tahanan Israel.

Organisasi HAM Palestina, Badil, mengatakan militer Israel sudah lama memiliki tradisi menangkap anak-anak Palestina. Karena itu, anak-anak Palestina sudah terbiasa pula tidur dengan pakaian lengkap plus sepatu, untuk mengantisipasi penangkapan tiba-tiba militer.

Penggerebekan dan penangkapan militer Israel atas warga Palestina di wilayah pendudukan, menurut Badil, memicu trauma berat bagi anak-anak Palestina. Tak sedikit di antara mereka yang menderita insomnia, mengompol, dan mimpi buruk.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat pasukan Israel telah menggerebek setidaknya 100 rumah warga Palestina sejak 24 November hingga 4 Desember. Nabi Saleh, yang berlokasi di wilayah pendudukan Tepi Barat, sendiri dikepung sejumlah permukiman ilegal Yahudi dan pos militer.[](Irman A)