Ivanka Trump, menyaksikan pembukaan kedutaan besar AS di Yerusalem, 14 Mei 2018. REUTERS/Ronen Zvulun

Amerika Serikat akhirnya secara resmi memindahkan kantor kedutaan besarnya untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, Senin, 14 Mei 2018, waktu setempat. Pemindahan ini dilakukan di tengah-tengah aksi unjuk rasa mematikan di Jalur Gaza, yang pada Senin,14 Mei 2018, memakan korban jiwa 58 orang.

Dalam keterangannya, Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan sekitar 86 negara telah diundang dalam acara pembukaan pada Selasa, 15 Mei 2018. Namun hanya 32 delegasi negara yang mengkonfirmasi kehadirannya.

Dikutip dari situs Al-Jazeera.com, Selasa, 15 Mei 2018, segelintir negara Eropa barat yang hadir antara lain Austria dan Republik Ceko. Sedangkan negara-negara ASEAN yang hadir adalah Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Adapun negara-negara Afrika yang mendukung pemindahan ini adalah Tanzania, Republik Kongo, Pantai Gading, dan Rwanda.

Pemindahan kantor Kedutaan Amerika Serikat di Israel dilakukan menyusul pernyataan Negara Abang Sam pada Desember 2017, yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sehingga kantor kedutaan besarnya di Tel Aviv akan direlokasi ke kota yang masih diperebutkan Palestina tersebut. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai pengakuannya bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel dikecam komunitas internasional, yang menolak pengakuan tersebut.

Banyak negara di dunia berpandangan status Kota Yerusalem harus ditentukan dalam sebuah penyelesaian damai dan pemindahan kantor-kantor kedutaan besar saat ini akan mencederai setiap kesepakatan. Yerusalem merupakan kota suci tiga agama, yakni Islam, Yahudi, dan Kristen, yang hingga sekarang masih diperebutkan Israel dan Palestina.

Comments are closed.