|
||||
| Hamas Makin Besar, Israel Makin Kecil |
|
Tentu sumbangnya suara di atas ada faktor lain. Di antaranya adalah kegagalan sanksi blokade dan agresi yang pernah digelar Israel tahun 2008 untuk mengakhiri pemerintahan Hamas. Namun justru pemerintah itu semakin solid setelah revolusi Arab meletus untuk mendukung Hamas. Pemilu terakhir di Mesir, Tunis dan Maroko yang dimenangkan oleh kelompok Islam dengan mutlak memperoleh kursi di Palestina. Israel semakin khawatir terhadap Hamas sejak saat ini. Kekhawatiran semakin tanpak setelah PM Palestina Ismail Haniya melakukan lawatan kunjungan ke sejumlah negara Arab dan Islam; ke Kairo, Khouthum, Ankara. Israel secara terang-terangan menegaskan kekhawatirannya atas hasil kunjungan tersebut sebagai sebuah mobilisasi resmi dan bangsa Arab dan Islam untuk mendukung pemerintah Palestina. Hal ini tentu akan berpengaruh negatif kepada citra Israel di dunia Arab dan Islam. Mendekatnya Hamas kepada Fatah yang membuahkan teken rekonsiliasi nasional di Kairo awal Mei lalu dan mulai diterapkan di lapangan bisa jadi menyulut kekhawatiran Israel. Israel takut jika Fatah kembali menempuh orientasi Hamas dalam konflik dengan Israel. Ini berarti taruhan Israel untuk mempertahankan perpecahan internal Palestina setelah ini. Keberhasilan politik Hamas belakangan ini juga menjadi tamparan Israel. Pada saat yang sama ia juga menjadi tamparan bagi poros sebagian rezim Arab yang berkeliling di sekitar Amerika. Rezim-rezim Arab itu lupa bahwa angin perubahan di dunia Arab akan berhembus terus. Tahun 2012 tidak akan sama dengan 2011. Bangsa Arab yang masih di bawah rezim otoriter setelah ini tidak akan mau ketinggalan dalam perubahan. Tahun ini akan menjadi pamungkas revolusi dan perubahan dunia Arab. Maka sebaiknya rezim-rezim boneka Amerika segera bergabung dengan revolusi Arab daripada melawannya. Jika tidak, mereka akan senasib dengan rezim Arab lainnya. Gaza yang diinginkan Israel agar mati kelaparan akibat blokade atau akibat perang, justru – dengan ketegaran rakyatnya – berubah menjadi penyakit kepala akut bagi Israel. Hampir bisa dipastikan, jika Israel kesulitan untuk menjatuhkan Hamas pada saat masih lemah, maka dalam kondisi lebih kuat seperti sekarang, Israel tidak akan bisa mewujudkan cita-citanya. Karenanya, rezim-rezim Arab yang selama ini menolak Ismail Haniya meski hanya melalui telepon, kini mereka harus menyambut kedatangannya. Jamal Abu Ridah/ (PIP/bsyr) |




VOP Online-Belakangan suara-suara semakin sumbang pejabat Israel meminta agar menindak tegas Hamas di Gaza yang diwakili oleh pemerintah PM Ismail Haniya dengan risiko dan cara apapun. Mereka beralasan bahwa kekuatan militer faksi-faksi perlawanan di Jalur Gaza semakin berkembang dan membesar. Terutama kekuatan persenjataan roket yang mereka peroleh pasca jatuhnya rezim Qadafi di Libia akhir tahun lalu. Sehingga lebih dari 1 juta warga Israel di berada dalam ancaman roket-roket Palestina. Tentu masih ada alasan lainnya.