Rabu, 01 May 2013 23:28    PDF Cetak Surel
Bersikap Adil dalam Krisis Suriah
Penilaian Pengguna: / 2
JelekBagus 

VOP Online- Diakui atau tidak Suriah di bawah kepemimpinan Hafez dan Bashar membuka berbagai penampungan terbesar bagi para pengungsi Palestina yang terusir dari rumah-rumah mereka akibat kekejaman zionis Israel.

Krisis Suriah yang terjadi sejak dua tahun silam telah melahirkan kesedihan luarbiasa bagi kita semua sebagai umat manusia. Korban-korban tak berdosa terus berjatuhan. Sebuah negara dan bangsa tiba-tiba meluncur ke jurang kehancuran. Dan yang tak kalah pentingnya, krisis tersebut telah menimbulkan pro-kontra dan perselisihan yang hebat di tengah-tengah umat Islam, karena pada dasarnya di sana telah terjadi pertempuran di antara saudara seagama dari tubuh umat Islam yang sama.

Di satu sisi, kita melihat kenyataan bahwa Bashar Assad adalah satu-satunya pemimpin Arab yang hingga kini tetap menyatakan perang terhadap Israel dan tidak menerima perjanjian damai dengan negara zionis tersebut.

Diakui atau tidak Suriah di bawah kepemimpinan Hafez dan Bashar membuka berbagai penampungan terbesar bagi para pengungsi Palestina yang terusir dari rumah-rumah mereka akibat kekejaman zionis Israel.

Di sisi lain, pihak pemberontak dan para pendukungnya sering menyatakan bahwa mereka sedang "berjihad" melawan rezim yang zalim dan tiran.

Benarkah demikian? Jika benar, lantas mengapa para pemberontak ini berjihad dengan menggandeng tangan musuh-musuh terbesar umat Islam, yakni Amerika Serikat, negara-negara Barat dan terakhir rezim zionis Israel, dalam melakukan jihadnya? Sungguh, sebuah jihad yang didukung musuh-musuh Islam yang terang-benderang untuk mengalahkan Bashar Assad yang hingga kini justru mendapat dukungan mayoritas rakyatnya. Lalu apakah makna jihad masih bermakna disini?.

Allah telah berfirman dengan tegas dalam surah Al-Maidah ayat 51 sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Apa yang terjadi di Suriah sangat diwarnai oleh apa yang disebut sebagai perang propaganda. Ada banyak kebohongan dan rekayasa informasi yang disebarkan untuk menggiring opini publik dunia Islam membenci Assad yang sejak bertahun-tahun telah dikenal luas sebagai pahlawan Arab anti Israel. Berkali-kali pihak oposisi mengunggah foto berdarah-darah di internet dan menyebutnya sebagai "korban Assad".

Lalu, beberapa hari kemudian para pakar menemukan bukti bahwa foto-foto itu sebenarnya diambil dari kejadian-kejadian berdarah di tempat lain (umumnya di Gaza). Bahkan, kantor berita sekelas BBC ketahuan menggunakan foto korban perang Irak dan menyebutnya sebagai korban pembantaian tentara Assad.

Para pemberontak Suriah untuk mengancurkan Assad, membuat rekaman video palsu amatir lalu diunggah di internet. Video dari pihak pemberontak ini dengan sangat cepat disebarluaskan ke seluruh dunia, lalu disiarkan ulang oleh media massa yang berunah menjadi corong Taliban dan Al-Qaeda seperti MetroTV dan TVOne dengan dibumbuhi narasi yang menyayat. Bahkan Video-video itu diberi judl bombastis, seperti "Pembantaian sadis yang disebut sebagai korban kebrutalan Assad; pembantaian sadis yang diiringi takbir (dilakukan oleh pasukan oposisi); dan terakhir video berisi propaganda relijius, yang sepertinya dibuat untuk membangkitkan semangat jihad. Video seperti ini biasanya memperlihatkan para pemberontak sedang menembakkan senjata yang dengan diiringi takbir, tayangan para pemberontak yang sedang sholat berjamaah, atau (konon) demo sejumlah massa yang menginginkan khilafah di Suriah.

Pertanyaannya, untuk apa pemberontak yang mendapat dukungan dana dan senjata dari Ara Saudi, Qatar, Turki, AS dan beberapa negara Eropa itu membuat begitu banyak video propaganda? Untuk menunjukkan kebrutalan rezim Assad? Bukankah menurut mereka mayoritas rakyat Suriah begitu membenci Assad? Jika mayoritas rakyat sudah membenci pemimpinnya, mungkinkah pemimpin itu bertahan demikian lama di kursinya? Ataukah, tujuan semua propaganda itu sebenarnya bukan untuk rakyat Suriah, melainkan untuk umat Islam dunia?

Dengan begitu banyak kebencian yang disebarkan di benak umat ini, maka akhirnya umat ini menjadi semakin garang dan tidak mampu berpikir secara tenang dan objektif. Dan akhirnya, umat ini lupa dengan musuh-musuh umat yang sejati dan beralih mengerahkan seluruh tenaganya untuk memusuhi keluarga sendiri, sesama bagian dari umat sendiri.

Melihat begitu besarnya propaganda anti Assad oleh media Barat dan media corong Taliban dan al-Qaeda, kita pantas bertanya-tanya. Mengapa media yang sama seolah melupakan jutaan umat Muslim yang terbantai sadis di Palestina, Irak, Afghanistan, Yaman, Somalia, Sudan, Mali dan lain-lain oleh senjata-senjata pemusnah massal milik Amerika Serikat dan Israel? Ya, jelaslah bahwa tujuan propaganda itu adalah melalaikan umat ini dari musuh-musuh hakiki dan memunculkan musuh-musuh palsu dari sesama umat Islam yang berbeda-beda mazhab dan aliran, dalam rangka mengobarkan konflik internal di dalam tubuh umat ini sampai tidak tersisa lagi apa-apa dari umat ini kecuali mayat-mayat yang berserakan di mana-mana.

Sebagai umat Islam yang memiliki pegangan Al-Qur’an, kalam Ilahi yang suci dan abadi ini, kembali kepada ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya. Lantas, apakah kata Al-Qur’an dalam menyikapi suatu perselisihan? Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim,” (QS. Al-Hujurat [59]: 11). Kemudian Allah juga berfirman,“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa,” (QS. Al-Najm [53]: 32).

Dan apabila kesalahpahaman berubah menjadi pertengkaran, maka Islam menyuruh kita untuk ishlah. “ Oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman,” (QS. Al-Anfal [8]: 1). Allah juga berfirman, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat,” (QS. Al-Hujuraat [49]: 10). Dan sebagaimana kita ketahui, atas petunjuk sejumlah ulama Suriah, terutama Syaikh Muhmmad Said Ramadhan Al-Buthi yang akhir bulan lalu dibunuh oleh kaum pemberontak Suriah anti Assad, Presiden Assad telah bertekad melakukan islah dan rekonsiliasi tersebut. Bahkan, dia telah membentuk sebuah kementerian khusus yang menangani urusan rekonsiliasi nasional ini.

Kemudian, menghadapi perang propaganda yang besar tentang apa yang terjadi di Suriah ini, apakah tugas kita sebagai umat Islam? Jelas, Islam menyuruh kita untuk berpegang pada asas tabayyun (konfirmasi) yang menyatakan bahwa semua tuduhan harus dibuktikan oleh para penuduh, dan kemudian yang tertuduh diberi kesempatan untuk membantah dan memverifikasi bukti-bukti yang diajukan. Apalagi jika kita lihat dengan seksama, para pembawa berita tentang kebrutalan Assad ini umumnya adalah media yang sengit memusuhi Islam, yakni media massa Barat seperti BBC, CNN, Reuters, AFP dan sebagainya. Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Al-Hujuraat: 6). Nah, bukankah media massa tersebut di atas layak disebut sebagai fasik, bahkan musuh Islam?!

Bahkan kalaupun kita tidak menyukai rezim Bashar Assad, sebagai umat Islam kita tetap dilarang untuk berlaku tidak adil terhadap orang-orang yang tidak kita sukai. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS. Al-Maidah [5]: 8).

Dan akhirnya, kita sebagai umat Islam yang tegak lurus di bawah bendera Tauhid mestilah terus berpegang pada firman Allah yang berbunyi: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk,” (QS. Ali Imran [3]: 103).

Tujuan kita berpegang pada firman-firman Allah di atas tentulah agar kita tetap di jalan yang diridhoi-Nya dan tidak lalai terhadap musuh-musuh Islam yang sebenarnya, musuh-musuh kemanusiaan yang menjajah umat Islam dalam berbagai bidang kehidupan, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya. Kita pun harus waspada terhadap kemungkinan permusuhan yang datang dari berbagai kelompok yang membenci Islam. Dan tugas kita sebagai umat bukan justru mengobarkan permusuhan di antara sesama umat, atau mendukung pihak-pihak yang hendak terus mengobarkannya, melainkan justru meredakan pertikaian yang sedang berlangsung. Atau setidaknya kita berdoa agar Allah melapangkan semua pihak yang bertikai untuk mampu mencari solusi dari pertikaian mereka. [IT/MK]

 

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.