Konferensi Solidaritas Internasional Palestina di Beirut pada 12-13 Maret 2018 dimulai dengan pemaparan secara detil apa yang terjadi di Palestina oleh mereka yang bekerja di wilayah pendudukan.

Sesi pertama pada hari kedua ditampilkan film pendek tentang tahanan Palestina dan pelanggaran hak asasi manusia yang kentara, hukum-hukum internasional dan konvensi internasional. Jika kita terbiasa mendengar jumlah orang Palestina yang ditahan oleh serdadu Israel, dalam film pendek ini memaparkan jumah orang Palestina yang syahid di penjara dan jenazahnya masih ditahan Israel.

Koordinator Kampanye Nasional untuk Pemulihan Jenazah Syuhada Palestina yang ditahan oleh rezim pendudukan Israel, Salwa Rizkallah, mengatakan bahwa jumlah mayat para martir yang ditahan lebih dari 235 orang.

“Kami mulai perlawanan hukum untuk mengambil sekelompok martir beberapa tahun yang lalu, dan pada tahun 2010 kami dapat mengambil jenazah martir Mashhour al-Aruri setelah 34 tahun masa penahanan,” katanya.

Kemudian, sebuah film pendek tentang martir Palestina Mohammed Abu Khudair, yang diculik, disiksa dan dibakar hidup-hidup oleh pemukim Israel pada tahun 2014, juga diperlihatkan.

Sebagai bagian dari acara, sebuah laporan video yang menunjukkan bahwa pelanggaran oleh pasukan pendudukan Israel terhadap anak-anak Palestina ditampilkan. Laporan tersebut menunjukkan bahwa sejak tahun 2000, sekitar 2031 anak-anak Palestina telah terbunuh menurut statistik DCI, sementara sekitar 10.000 anak-anak Palestina telah ditangkap selama tahun-tahun ini. Sebagian besar dari mereka berasal dari Al-Quds.

Sebuah film pendek lagi tentang pemukiman Israel di berbagai wilayah yang diduduki, terutama di wilayah yang diduduki Al-Quds dan Tepi Barat, yang menegaskan maksud Zionis untuk memegang kendali penuh atas Palestina dan mengosongkannya dari rakyatnya.

Seorang aktivis dari wilayah pendudukan, Bakr Abdul Haq, mengatakan dalam forum konferensi;: “Tujuan dari permukiman tersebut adalah untuk menciptakan pusat populasi yang besar di sekitar kota-kota Palestina dan memaksa rakyat Palestina untuk memperluas secara vertikal, yang punya ekses besar pada kualitas sosial dan ekonomi”

“Ada rencana penyelesaian yang diperluas dari tenggara Nablus ke daerah Kafr Qasim di Barat, yang mencakup blok permukiman besar dan akan membagi Tepi Barat menjadi dua bagian di mana pendudukan tersebut berusaha menghilangkan eksistensi Palestina,” ini salah satu konsekuensi pengakuan pengakuan al-Quds sebagai ibu kota Israel oleh Trump,” jelasnya.

Hussein Abu Khudair, ayah dari anak yang menjadi martir tersebut, berbicara di forum menggambarkan kejahatan pendudukan Israel terhadap anaknya sebagai “tindakan brutal yang tidak dapat ditolerir, ika bukan karena kamera pengawas kami, yang mendokumentasikan penculikan tersebut anak saya, kasus ini tidak bisa diajukan dan menambahkan bahwa tidak ada dukungan untuk keluarga martir selama persidangan” jelas Hussein.

Setelah itu, ditampilkan dua film pendek tentang penderitaan pengungsi Palestina di kamp-kamp dan yang kedua tentang pengepungan 12 tahun di Jalur Gaza.

Konferensi Internasional ini memberikan banyak penghormatan dan penghargaan bagi banyak keluarga Syahid di Palestina, juga memberikan award mereka yang jauh dari Palestina dan syahid karena membela orang Palestina seperti keluarga Rachel Corrie dari USA (syahid karena menghadang Buldozer Israel) dan keluarga Tom Hurndall, activist UK yang ditembak Israel karena menyelamatkan anak Palestine dari Tank Israel.[*]

*Reportase dari Ir. Mujtahid Hashem, Direktur Voice of Palestine

 

Comments are closed.