shlomo-sand

Salah satu kampanye Israel untuk melegitimasi keberadaan mereka di Palestina karena mereka adalah keturunan asli Yahudi Kuno yang ribuan tahun lalu sudah mewarisi tanah Yerusalem. Tapi seorang sejarawan Yahudi asal Tel Aviv, Shlomo Sand justru memutarbalikkan klaim itu. Berikut cuplikan wawancara yang berhasil dilakukan Direktur Riset VoP, Irman Abdurrahman dengannya melalui skype pada hari Rabu 20/12.

Shlomo Sand mungkin punya setiap jejak untuk membuatnya menjadi Zionis. Orang tuanya penyintas Holocaust. Dia bagian dari imigran Yahudi Austria yang pada 1948 berlabuh di Jaffa, kota pelabuhan Palestina yang kini bagian dari Tel Aviv. Pada usia 18 tahun, dia berperang untuk Israel dalam Perang Enam Hari (5-10 Juni 1967), saat kompinya sukses menduduki Jerusalem Timur.

Tapi, semua jejak itu hilang bak ditelan bumi. Sementara kemenangan Israel atas gabungan pasukan Mesir, Suriah, dan Yordania, dirayakan sebagian besar orang Israel, Sand justru menganggap momen itu menjadi titik baliknya: dia merasa telah kehilangan tanah air.

“Kalaupun menerima tesis negara Yahudi, saya tak pernah bisa memahami, mengapa Yahudi yang telah lama tak ada di negeri ini (Palestina) bisa memiliki hak kembali,” ujarnya. “Dan mengapa keberadaan orang yang telah lama hidup di sini tak memberi mereka hak atas negeri ini. Saya selalu berpikir ini argumen bodoh.”

Pengalaman itu ditambah persentuhannya dengan sejarah Perancis–negara tempat dia mengambil gelar master dan doktor di bidang ilmu sejarah–membuatnya kian mempertanyakan bangunan besar historiografi Yahudi dan Zionis Israel. Semua pertanyaan itu dia jawab dalam The Invention of Jewish People (2009).

Buku ini merupakan serangan besar-besaran terhadap nasionalisme etno-relijius negara Yahudi. Sand berkesimpulan imigran Yahudi asal Eropa yang kini mendominasi Israel tak berasal dari “nenek moyang Yahudi biblikal” 2.000 tahun lalu, seperti diklaim Zionis. “Bahkan, orang Palestina lebih mungkin memiliki kemiripan dengan Yahudi kuno daripada kami,” katanya.

The Invention of Jewish People kemudian menjadi best seller, bukan hanya di Israel tapi di banyak negara. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa itu pun memperoleh “Prix Aujourd’hu“, penghargaan jurnalis Perancis kepada karya non-fiksi.

Sand pun mendapatkan statusnya sebagai salah satu sejarawan “New Historians” bersama sejarawan lain Israel, seperti Ilan Pappe dan Tom Segev. New Historians merupakan istilah yang disematkan kepada barisan sejarawan yang menantang versi tradisional sejarah Israel.

Dipuji di dunia internasional, Sand justru mendapatkan cacian di Israel, terutama dari kalangan sejarawan arus utama. Dia dilabeli “anti-Zionis”, “Anti-Yahudi”, “Anti-Israel”, dan “Yahudi Pembenci Yahudi”. Sand sendiri lebih suka menyebut dirinya “post-Zionis”.

Soal deklarasi Trump tentang Yerusalem, bagaimana pendapat Anda?

Pernyataan itu jelas bertentangan dengan hak Palestina atas Yerusalem Timur. Sebagaimana diketahui ada dua bagian Yerusalem. Satu bagian dibangun di barat hingga 1967. Bagian lain, tempat Kota Tua berlokasi, disebut Yerusalem Timur. Jika Trump menyatakan Yerusalem Barat ibukota Israel dan Yerusalem Timur Ibukota Palestina, maka saya akan mengatakan itu pernyataan positif. Tapi, dalam kasus ini, ketika Trump menyatakan Yerusalem ibukota Israel, maka menurut saya itu pernyataan bodoh dan merampas hak Palestina.

Bagaimana Anda menilai klaim bahwa Israel memiliki hak atas Yerusalem sebagai ibukotanya karena Yahudi mewarisinya dari “Yahudi biblikal” yang hidup 2.000 tahun lalu?

Sebagai sejarawan, saya juga akan menilai adalah bodoh memberi hak kepada sekelompok manusia setelah 2.000 tahun. Pertama-tama, logikanya begini, jika Anda ingin mengubah dunia seperti 2.000 tahun lalu, maka dunia akan menjadi rumah sakit jiwa. Coba Anda bayangkan, mengeluarkan semua orang kulit putih dari New York dan mengembalikan suku-suku Indian seperti sebelum era kolonisasi. Anda tahu, sekitar 300 tahun lalu, Indian mendominasi Manhattan. Jika itu dilakukan, maka dunia akan menjadi sesuatu yang gila. Mengklaim kembali hak setelah ribuan tahun itu sesuatu yang gila.

Kedua, saya sangat yakin bahwa kemungkinan orang Palestina keturunan “Yahudi kuno” yang hidup 2.000 tahun lalu jauh lebih besar ketimbang kami (orang Israel). Sebab, sebagai sejarawan, saya menemukan bahwa Yahudi tak pernah diasingkan dari Palestina (oleh Romawi pada 70 M). Dalam hipotesis saya, bagian terbesar dari populasi Yahudi monoteis di Palestina mengubah keyakinan mereka ke monoteisme Kristen dan kemudian ke monoteisme Islam. Dengan begitu, kemungkinan anggota Hamas (kelompok perlawanan Palestina) yang lahir di Hebron sebagai keturunan “Yahudi kuno” jauh lebih besar daripada saya yang lahir di Eropa.

Jauh lebih besar?

Ya, lebih besar daripada saya (orang Israel). Saya harus mengatakan kepada Anda, di mana pun di dunia ini, populasi itu selalu berubah, dan kemungkinan bahwa orang Palestina adalah keturunan “Yahudi Kuno” jauh lebih besar daripada Yahudi yang kini tinggal di Israel. Ini jelas bagi saya karena penguasa Romawi tak pernah mengasingkan Yahudi. Pengasingan itu tak pernah terjadi. Tidak ada bukti sejarah bahwa Yahudi diasingkan dari Palestina.

Apakah tidak ada kemungkinan penakluk Arab mentransfer populasi ke Palestina pada Abad ke-7 Masehi?

Tidak ada bukti sejarah terkait itu. Saat bangsa Arab tiba di Palestina, mereka sebagian besar tentara dan, seperti kebanyakan penakluk, mereka berhubungan dengan perempuan setempat. Karena itu, saya mengatakan, bahwa populasi selalu berubah karena berbaur.

Lalu, bagaimana dengan studi-studi genetik yang mengatakan Yahudi Eropa timur (Yahudi Ashkenazi) memiliki gen Timur Tengah ketimbang orang Eropa lainnya?

Saya tak pernah punya keyakinan yang besar terhadap studi genetik populasi karena hasilnya selalu mengatakan “sedikit dan sedikit”. Saya melihat, nyaris tak ada peluang untuk membuktikan bahwa orang Israel keturunan “Yahudi kuno” dengan menggunakan studi genetik. Di sisi lain, upaya sebuah universitas di New York (Yeshiva University–red) untuk membuktikan bahwa Yahudi berasal dari Palestina dinodai skandal. Anda bisa membaca riset ahli genetik Eran Elhaik yang membuktikan bahwa studi itu bermasalah.

Dalam buku The Invention of Jewish People, Anda menulis tentang kebangsaan (nationality) di Israel yang berdasarkan ethnos. Bisa Anda jelaskan?

Satu problem di Israel adalah mereka berupaya mendasarkan kebangsaan kepada ethnos, bukan kepada kewarganegaraan (civic). Posisi politik saya adalah Israel harus menjadi “negara Israel”, bukan “negara Yahudi”. Setiap orang yang hidup di Israel, baik Yahudi maupun Palestina, harus hidup setara. Definisi bangsa di sini haruslah “orang Israel” bukan “orang Yahudi”, dan dasarnya harus kewarganegaraan dan bukan etnik.

Tapi hingga kini, Israel mendefinisikan dirinya sebagai “negara Yahudi”. Maka, Anda bisa bayangkan, bahwa orang Yahudi yang tidak tinggal di sini (di Israel), menurut Israel, lebih berhak tinggal di Israel daripada warga Palestina yang hidup dan tinggal di Israel. Inilah alasan kenapa saya tidak percaya bahwa Israel bisa bertahan lama. Anda tahu di Israel, ada 25 persen warga non-Yahudi tapi negara ini menyatakan bahwa Israel bukan milik semua warganya tapi hanya milik Yahudi.

Jadi, dalam konteks ini, dapatkah Israel disebut negara demokratis?

Tidak. Sebuah negara demokratis milik semua warga negaranya.

Tapi, bukankah Israel mengklaim sebagai masyarakat terbuka dan liberal?

Ya, saya dapat mengatakan masyarakat Israel liberal untuk sementara ini. Tapi, prinsip demokrasi adalah bahwa negara milik semua warga negaranya. Tapi, Anda juga harus mencatat, tak ada kebebasan di wilayah Pendudukan Palestina, hanya di Israel. Tapi, Israel tetaplah bukan negara demokrasi. Dia liberal tapi pada dasarnya bukan demokrasi karena dia menyatakan bukan milik semua warga negaranya.

Apakah karena statusnya sebagai “negara Yahudi” ada diskriminasi di Israel?

Ya, ada diskriminasi. Warga Palestina di Israel–saya tak berbicara tentang orang Palestina di wilayah Pendudukan–adalah warga negara kelas dua. Ada diskriminasi dalam kebijakan negara setiap waktunya.

Bisa Anda sebutkan contohnya?

Ya, sejak 1948 hingga kini, Israel membangun ratusan permukiman khusus untuk Yahudi tapi tak pernah membangunnya untuk warga Palestina. Tak pernah ada satu pun desa Palestina yang dibangun padahal Israel mengambil tanah-tanah orang Palestina sejak 1948 hingga sekarang.

Lalu bagaimana dengan solusi finalnya menurut Anda?

Saya masih berpegang pada prinsip dua-negara tapi jujur saya pesimistis. Menurut saya, kini tinggal Palestina harus memperkuat determinasi mereka. Saya sangat berharap dunia memaksa Israel mundur ke perbatasan 1948.

Kenapa Israel begitu bersikeras menjadi “negara Yahudi” sementara seluruh dunia tak bisa menerimanya?

Karena Israel tak pernah mencicipi batas dari kekuatannya, karena Amerika Serikat tak pernah berhenti mendukungnya.

Comments are closed.