rat-patrol

Berulang kali, Israel terlebih dahulu melakukan pemboman, menembakkan meriam, dan menimbulkan bentuk-bentuk lain dari kekerasan tanpa hukum di Gaza, dengan klaim sebagai membela diri. Ketika Gaza merespon, Israel menyebutnya sebagai terorisme, mengklaim pembenaran untuk serangan yang lebih besar dalam rangka “membela diri”, sesuatu yang dilarang oleh hukum internasional.

Bahkan, Piagam PBB Pasal 2 (4) mengatakan:

“Semua Anggota harus menahan diri dalam hubungan internasional mereka dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik negara manapun, atau dengan cara lain yang tidak konsisten dengan Tujuan dari PBB.”

Hanya dua pengecualian berlaku. Berdasarkan Bab VII, Dewan Keamanan dapat menggunakan kekuatan untuk memulihkan perdamaian. Masing-masing negara harus mematuhi seseuai dengan Bab VII, Pasal 51 yang menyatakan:

“Tidak ada dalam Piagam ini yang akan mengganggu hak yang melekat pada pertahanan diri individu atau kolektif jika serangan bersenjata terjadi terhadap Anggota PBB, sampai Dewan Keamanan telah mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Tindakan yang diambil oleh Anggota dalam pelaksanaan hak membela diri ini harus segera dilaporkan kepada Dewan Keamanan dan tidak akan dengan cara apapun mempengaruhi wewenang dan tanggung jawab dari Dewan Keamanan di bawah Piagam ini untuk mengambil tindakan setiap saat yang dianggap perlu untuk mempertahankan atau memulihkan perdamaian dan keamanan internasional. ”

Selain itu, masing-masing negara dapat menggunakan kekuatan defensif terhadap serangan bersenjata sampai Dewan Keamanan bertindak. Tidak ada pengecualian lainnya berlaku, termasuk pembalasan bersenjata. Menyebut mereka melanggar hukum, Majelis Umum mengatakan semua negara harus menahan diri dari menggunakan mereka.

Selain itu, masing-masing negara dapat menggunakan kekuatan defensif terhadap serangan bersenjata sampai Dewan Keamanan bertindak. Tidak ada pengecualian lainnya yang berlaku, termasuk pembalasan bersenjata. Menyebutnya melanggar hukum, Majelis Umum mengatakan semua negara harus menahan diri dari melakukan pembalasan bersenjata.

Hak membela diri terbatas hanya untuk menghalangi serangan bersenjata, mencegah serangan selanjutnya setelah serangan awal, atau membalikkan konsekuensi agresi musuh, seperti mengakhiri suatu pendudukan ilegal.

Bahkan kemudian, bagaimanapun, kekuatan harus sesuai dengan prinsip-prinsip kebutuhan, perbedaan, dan proporsionalitas.

Kebutuhan berkaitan dengan hanya menyerang sasaran militer.

Perbedaan berkaitan dengan membedakan antara orang-orang sipil dan militer.

Proporsionalitas melarang kekuatan yang tidak proporsional yang cenderung merusak situs non-militer dan/atau membahayakan kehidupan sipil.

Selain itu, pertimbangan keempat memerlukan mencegah penderitaan yang tidak perlu, terutama yang mempengaruhi penduduk sipil noncombatant.

Jika tujuan-tujuan ini tidak mungkin, maka serangan dilarang.

Selain itu, untuk tingkat yang terbatas, antisipatif pertahanan diri diperbolehkan ketika bukti kuat menunjukkan kemungkinan ancaman dalam waktu dekat atau serangan lebih lanjut setelah yang pertama.

Namun, penyerang menanggung beban tanggung jawab bukti, kebanyakan gagal memenuhi tanggung jawab itu, seperti yang selalu dilakukan oleh Amerika pasca Perang Dunia II. Israel juga, tanpa kecuali, semenjak “perang kemerdekaan”nya pada tahun 1947-1948.

Pada kenyataannya, itu adalah agresi nyata terhadap negara lain, mencuri 78% dari warganya, meskipun Rencana Partisi PBB tahun 1947, memberikan 56% sejarah Palestina bagi orang Yahudi, serta menunjuk Yerusalem sebagai kota internasional di bawah Dewan Perwalian PBB.

Piagam PBB juga menjelaskan dalam kondisi apa intervensi, kekerasan dan pemaksaan dibenarkan. Tidak ada satu pun ada di Palestina sekarang atau sebelumnya. Mengklaim suatu “hak yang melekat” juga merupakan pemalsuan di bawah hukum internasional.

Selain itu, Pasal 2 (3) dan Pasal 33 (1) memerlukan pemukiman damai dari sengketa internasional, bukan serangan preemptive. Pasal 2 (4), pada kenyataannya, melarang kekuatan atau penggunaan kekuatan yang mengancam, termasuk intervensi kekerasan dalam bentuk apapun.

Selanjutnya, Pasal 2 (3), 2 (4), dan 33 benar-benar melarang memprovokasi ancaman baik unilateral atau eksternal lainnya atau penggunaan kekuatan yang tidak secara khusus diperbolehkan menurut Pasal 51 atau dengan kata lain disahkan oleh Dewan Keamanan. Melakukannya adalah merupakan agresi nyata.

Amerika dan Israel adalah pelaku pelanggaran serial. Sebagai respon, warga negara Irak, Afghanistan, Pakistan, Libya, Somalia, Yaman, dan Palestina secara hukum diperbolehkan untuk merespon secara defensif terhadap agresi bersenjata preemptive itu.

Ketika selesai, bagaimanapun, itu disebut dengan terorisme. Agresor membuat aturan mereka sendiri. Negara yang ditargetkan menjadi korban dua kali, menderita efek serangan bersenjata, kemudian difitnah karena membela diri.

 

Agresi Israel Melanggar Hukum

Sejak 18 Agustus Israel melanggar hukum dengan melakukan pemboman dan pembombardiran Gaza terlebih dahulu, dengan bohong menyalahkan Palestina atas beberapa serangan Israel. Pada kenyataannya, mereka menggunakan karakteristik false flag klasik, terutama karena ada alasan kuat untuk melancarkannya.

Berlangsung selama empat hari, menyebabkan banyak korban diantaranya 19 warga Palestina tewas dan 50 lebih terluka, sebagian besar warga sipil dengan cara yang membahayakan atau sengaja ditargetkan untuk menimbulkan rasa sakit dan penderitaan.

Selain melanggar Piagam PBB Pasal 51, Israel juga melanggar perjanjian Jenewa Keempat Pasal 33 yang menyatakan:

“Tidak ada orang yang dilindungi dapat dihukum karena pelanggaran yang secara pribadi belum dia lakukan. Hukuman kolektif dan juga semua tindakan intimidasi atau bagian dari terorisme dilarang … .pembalasan terhadap orang-orang yang dilindungi dan properti mereka dilarang. ”

Tanpa peduli, Israel sengaja melanggar ketentuan ini dan hukum internasional lainnya, melakukan agresi bersenjata preemptive terhadap warga sipil Palestina, termasuk menggunakan senjata ilegal.

Pada tanggal 19 Agustus, The Palestine Monitor menampilkan judul, “Attacks on Gaza continue: ‘I’ve never seen shrapnel wounds like this before,” dengan mengatakan:

Pada Jumat malam saja, lebih dari selusin serangan udara menghantam beberapa situs Gaza, termasuk sebuah mobil sipil, membunuh satu keluarga yang terdiri dari tiga orang yaitu dokter, anaknya berusia lima tahun dan lain-lain.

Koordinator Media untuk layanan medis Gaza, Adham Abu Salmiya, mengatakan Israel menggunakan senjata jenis baru. Para Dokter melaporkan cedera yang tidak biasa, sehingga terjadi peningkatan amputasi.

Maha Elbanna, wartawan Palestina/Amerika yang berbasis di kota Gaza merekam gambar korban yang terluka tampak sangat mengerikan, mengatakan:

“Ada gambar seorang gadis remaja dengan luka pecahan peluru di wajahnya yang sangat dalam, seperti aku belum pernah lihat sebelumnya. Saya telah melihat luka pecahan peluru sebelumnya dan yang ini sangat aneh. ”

Pada kenyataannya, senjata yang digunakan mungkin adalah daya ledak tinggi Dense Inert Metal Explosive (DIME) yang terbuat dari paduan tungsten. Digunakan selama proses pengecoran logam, bahan ini memiliki daya ledak besar, cukup untuk memotong orang menjadi berkeping-keping.

Pada tahun 2006, DIME pertama kali digunakan di Lebanon dan Gaza. Tidak hanya membunuh dan mencincang, racunnya juga menimbulkan ancaman kanker jangka panjang.

Amunisi Flechette kemungkinan juga digunakan – panah dengan panjang 4 cm yang digunakan sebagai senjata anti personil. Senjata itu menembus ke tulang, menyebabkan beberapa luka-luka mengerikan. Sampai 8.000 amunisi flechette dapat dikemas menjadi satu shell artileri. Setelah meledak, panah-panah itu meluncur dengan kecepatan tinggi ke beberapa arah hingga sekitar 300 meter.

DIME dan amunisi flechette adalah senjata teror, melanggar dokumen dan semangat hukum internasional.

Albanna menambahkan bahwa “terdapat begitu banyak kerusakan di Gaza – di utara, selatan, dan di Kota Gaza … sejauh ini, tidak ada bukti bahwa setiap orang di Gaza bertanggung jawab atas apa yang terjadi.”

Dr Mustafa Barghouthi, Sekretaris Jenderal Palestinian National Initiative mengatakan:

“Ini adalah kampanye yang berubah menjadi pembantaian dan daerah-daerah sipil menjadi target.”

Di antara target nonmiliter lainnya, Israel menghantam sebuah pabrik beton, melukai dua warga sipil. Barghouthi dan dokter Palestinian Medical Relief Society (PMRS) menyerukan masyarakat internasional untuk menuntut gencatan senjata segera.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas meminta sidang khusus Dewan Keamanan untuk menghentikan agresi nyata Israel.

Sebagai respon, warga Gaza meluncurkan roket Qassam dan Grad serta mortir, pertahanan yang jauh dari memadai melawan F-16, helikopter tempur Apache, tank dan senjata berteknologi tinggi lainnya, yang digunakan Israel terhadap warga sipil.

Pada tanggal 20 Agustus, Haaretz mengatakan rumah di Be’er Sheva terkena serangan pada Sabtu malam, menyebabkan satu kematian dan empat luka-luka.

Roket lain melukai dua anak. Secara total sejak Kamis malam, puluhan roket Qassam dan Grad, serta berbagai mortir ditembakkan ke Israel selatan, melukai sekitar 16 orang Israel. Area di dalam dan sekitar Be’er Sheva, Ashkelon, Ashdod, Eshkol dan Sha’ar Hanegev terkena serangan. Korban dan kerusakan yang ditimbulkan sangat besar dibandingkan dengan apa yang ditimbulkan Israel pada Gaza, mengambil korban yang sangat besar seperti biasa.

Lebih besar lagi pada hari Minggu ketika Israel menyerang Beit Lahia, melukai tujuh warga Palestina, selain menyebabkan kerusakan yang luas dari empat hari serangan, mungkin akan datang lagi serangan yang lebih dahsyat.

Pada tanggal 21 Agustus, Haaretz mengatakan delapan menteri senior kabinet Israel bertemu Sabtu malam untuk membahas peningkatan serangan di Gaza. Mungkinkah Cast Lead II akan terjadi?

Juga pada 21 Agustus, oposisi Kadima MKs menuntut Israel “meluncurkan suatu (skala besar) kampanye militer” terhadap Gaza.

MK Shaul Mofaz (Mantan Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Umum IDF) mengatakan langkah-langkah harus diambil untuk “merubuhkan  infrastruktur (Hamas) dan menciptakan sistem hubungan dengan Mesir untuk mencegah terorisme yang datang dari perbatasan Mesir.”

Dengan kata lain, bila ragu, maka serang. Mungkin memang Cast Lead II. Mengingat kejahatan mengerikan Israel dalam perang dan kemanusiaan yang terakhir kali, bayangkan apa yang sekarang mungkin direncanakan.

Tidak peduli. Para pemimpin dunia tetap diam. Seperti biasa, pada tanggal 18 Agustus suatu pernyataan Gedung Putih menyalahkan korban Palestina sebagaimana cara Obama yang sepenuhnya salah mengutuk Gaddafi untuk membenarkan agresi AS/NATO yang melanggar hukum.

Pada tanggal 21 Agustus, penulis Haaretz Yossi Sarid menampilkan headline, “Israel is isolating itself from all its Mideast allies,” mengatakan:

Israel mengecam tanpa pandang bulu, menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri. “Hamas yang harus disalahkan karena bertanggungjawab atas segala sesuatu (di) Gaza.” Begitu juga Jihad Islam. “itu adalah kesalahan (PA) karena setuju (untuk) bersatu dengan Hamas (untuk) pemerintahan bersama. Al Qaeda adalah pihak yang bersalah karena “ada di mana-mana,” dan Mesir, juga, memikul tanggung jawab “karena mereka tidak bertindak melawan” teror”.

Kapasitas Israel untuk membuat musuh akhirnya mungkin menjadi kehancurannya, meninggalkannya terisolasi dan dicaci maki. Bagi banyak korban, hal itu tidak bisa terjadi sesaat terlalu cepat.

Suatu Komentar Akhir

Beberapa kabar baik dan buruk. Pertama yang buruk. Pada tanggal 20 Agustus, pasukan Israel menyerbu Hebron, menghancurkan puluhan rumah, mencari dan merusaknya, serta menangkap sekitar 120 warga, sebagian besar pemimpin politik dan pendukung Hamas.

Sekarang yang baik. Pada tanggal 21 Agustus, penulis Haaretz Hila Raz menampilkan headline, “Israeli activists: Social protests must continue despite escalation of violence”, mengatakan:

“Meskipun eskalasi kekerasan terjadi di selatan, para pengunjuk rasa tenda bertekad untuk terus berjuang untuk keadilan sosial, kata penyelenggara selama akhir pekan.”

Pemimpin unjuk rasa Tel Aviv Stav Shafir mengatakan:

“Kami harus menemukan cara-cara baru dan kreatif untuk memprotes. Selama bertahun-tahun, masyarakat Israel terbiasa menyerah karena masalah keamanan … .Karena protes begitu kuat, sengit, dan mempengaruhi semua lapisan masyarakat, kita memahami bahwa jika kita tidak terus, segala sesuatu akan menjadi lebih buruk. ”

Memang begitu. Sebagai akibatnya, mempertahankan aktifitas itu sangat penting untuk memiliki harapan untuk sukses. Pemimpin National Student Union Itzik Shmueli mengatakan:

“Tujuannya adalah untuk mendapatkan perhatian pemerintah agar memperbaiki hal-hal seperti perawatan kesehatan, pendidikan dan perumahan … .Tidak ada alasan bagi para pemrotes untuk mati. Kami memiliki senjata yang sangat kuat di pihak kita -. Kebenaran ”

Semoga semangat itu tidak akan berkurang meskipun tujuan Israel adalah untuk menghancurkannya. Bahkan, semangat itu hadir pada Sabtu malam, Ynet News mengatakan “para pengunjuk rasa Tel Aviv berbaris di bawah spanduk merah … .menyanyikan slogan yang dihormati sepanjang waktu dari oeuvre pecinta damai.

Termasuk diantaranya:

“Yahudi dan Arab menolak untuk menjadi musuh.”

“Kami menuntut keadilan sosial baik di Israel maupun Wilayah-wilayah lainnya.”

“Mari kita hidup bermartabat baik di Gaza maupun Asdod,” dan

“Tidak terhadap perang lain yang akan mengubur protes.”

Bayangkan semangat itu menginspirasi semua orang Israel. Ini sudah ada di Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem Timur, jadi mengapa tidak seluruh Eretz Yisrael.

* Ditulis oleh Stephen Lendman, tinggal di Chicago dan dapat dihubungi di lendmanstephen@sbcglobal.net. Kunjungi juga situs blog-nya di sjlendman.blogspot.com

Sumber: occupiedpalestine.wordpress.com  published: Aug 22, 2011

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.