Hari Al-Quds (Yaumul Quds) yang jatuh pada Jumat terakhir bulan Ramadan kembali diperingati berbagai elemen masyarakat di seluruh dunia, tak terkecuali di Jakarta. Ribuan massa yang tergabung dalam Komite Solidaritas Palestina dan Yaman di mana Voice of Palestine termasuk di dalamnya, menggelar demo di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Jumat (8/6/2018). Mereka menyuarakan solidaritasnya untuk kaum tertindas dan mengecam para penindas di seluruh dunia. Para demonstran kali ini mengusung slogan “Kita akan shalat di Al-Quds” dengan berbekal keyakinan bahwa umur rezim penjajah Israel yang didukung Amerika tidak lama lagi akan sirna.

Sebagaimana diketahui, hari demi hari penindasan Israel dan Amerika terhadap Palestina bukannya terhenti malah kian menjadi-jadi. Bahkan sesungguhnya sudah sejak 70 tahun silam, Israel terus melakukan kejahatan kemanusiaan atas rakyat Palestina. Sedikitnya 120 korban jiwa meninggal dunia dan ribuan lain luka-luka akibat terjangan timah panas militer rezim Zionis, sejak aksi protes Great March of Return digelar pada 30 Maret silam.

Salah satu yang menjadi sorotan internasional adalah syahidnya tenaga medis muda yang cantik, Razan Al-Najjar akibat peluru kupu-kupu (butterfly bullet) yang ditembakkan oleh snipper Israel dalam aksi tersebut.

Tak hanya itu, media arus utama masih saja memperlihatkan keengganan untuk secara tegas menyatakan bahwa apa yang terjadi di Palestina selama ini, terutama sejak aksi damai 30 Maret lalu, sebagai pembantaian dan hukuman kolektif yang semuanya telah dilarang dalam Konvensi-Konvensi Jenewa.

Mengapa badan-badan dunia seperti lumpuh menghadapi aksi-aksi kekerasan rezim Zionis ini? Jawabannya jelas ini karena dukungan tanpa syarat Amerika Serikat kepada segenap aksi keji rezim rasis Zionis di forum-forum internasional. Bahkan dengan aksi keji presiden mereka yang secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Menghadapi aksi-aksi kekerasan yang terus berlangsung di wilayah pendudukan Palestina itu, Komite Solidaritas Palestina dan Yaman menyerukan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Mengutuk keras seluruh aksi keji dan biadab rezim Zionis yang sudah berlangsung sejak 70 tahun.
  2. Mengutuk Israel yang telah mempraktikkan state terrorism (terorisme negara) terhadap warga Palestina dengan cara membunuh, menangkap, mencaplok tanah dan ladang pertanian yang menjadi sumber penghidupan, mengusir, menggusur dan berbagai cara lain yang telah berlangsung sejak deklarasi apa yang disebut sebagai negara Israel.
  3. Mengecam dukungan pemerintah Amerika Serikat yang tanpa batas dan tanpa syarat atas entitas ilegal bernama Israel di wilayah Palestina.
  4. Menyeru seluruh elemen masyarakat sipil dunia, terutama umat Islam, untuk ikut bertanggung jawab menyuarakan protes keras dan kecaman lugas atas kekejian, penjajahan, pembantaian dan genosida yang sedang berlangsung serta memberi dukungan nyata kepada rakyat Palestina.
  5. Menyeru segenap elemen masyarakat sipil untuk berjuang menghentikan kekejian rezim Zionis ini seperti beberapa puluh tahun lalu masyarakat sipil dunia berhasil mengakhiri rezim apartheid di Afrika Selatan. Tanpa kerjasama kolektif seluruh pihak, maka kejahatan ini akan berlangsung terus dan harkat kemanusiaan tercoreng noda hitam.
  6. Menyeru segenap kompenen bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, untuk terus bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan Palestina dari rezim penjajah Israel sebagai bagian dari amanat Undang-Undang Dasar dan pesan para pahlawan dan pendiri Bangsa.
  7. Mengajak seluruh umat Islam, khususnya yang tergabung dalam ormas-ormas Islam, untuk bersatu membantu warga Palestina keluar dari kekejian dan teror rezim Zionis Israel dengan cara mengenyampingkan perbedaan-perbedaan yang ada di tengah mereka.
  8. Mengajak umat Islam bersama-sama memperhatikan Masjidil Aqsha sebagai kiblat pertama yang kini dalam status pendudukan dan penjajahan rezim Zionis.
  9. Menuntut Pemerintah Indonesia tetap konsisten dalam memperjuangkan kemerdakaan bangsa Palestina dan pulihnya seluruh hak asasi mereka, terutama hak pulang ke tanah air (the right of return).
  10. Mengimbau pemerintah Indonesia untuk meninggalkan solusi dua negara yang kian lama kian tidak mungkin direalisasikan lantaran secara objektif dan faktual sisa-sisa tanah Palestina telah sepenuhnya diduduki dan diisi ribuan pemukim dan imigran Yahudi dari seantero dunia.

Comments are closed.