kerajaan-gowa
Bumi Makassar terlihat jelas, pinggir air laut tenang tanpa ombak, pesawat yang kami tumpangi menukik dan mendarat. Kami pun berucap syukur tak terkira, peta Makassar tak hanya tersentuh, kaki kami menginjak di Bandara Sultan Hasanuddin, bandara Internasional Makassar yang seolah ingin menampakkan wajah berbenah menjadi kota modern. Wilayah ini terletak di bekas kesultanan terakhir Makassar, kerajaan Gowa dibawah Sultan Hasanudin, raja Gowa ke -16 yang lahir tanggal 12 Januari 1631.

Jumat, 29 April 2011, tepat pukul 09.20 WITA, tim VOP menyentuh tanah Gowa. Matahari kuning menyinari sederet pesawat yang berjajar. Sejurus kemudian kami menunggu jemputan di kantin Bandara, coto Makassar dan kopi panas menemani sarapan pagi. Untuk mengisi waktu, buku Menyandera Timur Tengah karangan Riza Sibudi kami bolak-balik, kam­i coba berpikir keras berusaha mengkaitkan hubungkan Israel yang sampai saat ini terus menyandera Amerika, kemudian Amerika yang menyandera timur tengah, sedang Palestina terus disandra (dijajah) Israel.
Sebuah jalinan konspirasi penjajahan yang mempengaruhi seluruh aspek penjajahan di seluruh dunia, mungkin saja konspirasi itu berkait erat dengan penjajahan bumi Makassar menghadapi Belanda. Konon kepala VOC adalah seorang Yahudi, Tapi apakah dia terlibat jaringan zionis baik langsung maupun tidak langsung dengan VOC di Gowa, rasanya kami harus menyelidiki lebih jauh.
Setelah satu jam menunggu, kami pun dijemput oleh Ketua Cabang HMI Makassar, Zulfkifli, dengan motor Suzuki. Sepanjang perjalanan, kami lewati jalan Perintis, terlihat markas militer Kodam VII Makassar, Kantor Gubernur Sulsel, POLDA Sulawesi Selatan Barat juga Batuara Raya (kantor Pendidikan Polisi). Belum sempat sampai ke sekreariat HMI, di Jalan Sukabumi No. 29, Tamamaung, Makassar, motor pun mogok kehabisan bensin, kami pun harus mendorong. Tetes keringat keluar, sekitar satu jam kami pun sampai.
Setelah istirahat sejenak kami tidak ingin kehilangan waktu dan langsung berdiskusi dengan Zul. Bagi aktivis asal Mamuju Sulbar ini, isu Palestina bisa dipetakan menjadi menjadi dua hal. Pertama, isu kemanusiaan, kedua, isu keagamaan. Jika didekati dengan isu kemanusiaan, maka semua elemen akan bersatu, tapi jika di dekati dengan keagamaan akan menjadi sebuah gerakan sektarian.
Situasi nasional tidak bisa terlepas dari situasi global, imbuhnya. Jadi, jika ada pembentukan terhadap fron imperialisme global, Zul setuju. Tetapi Zul mengingatkan, membangun gerakan global harus dengan cara menggunakan metode nasional masing-masing. Dengan kata lain, ketika memetakan persoalan nasional selalu menjadi bagian dari problem global. Jadi, syarat mutlaknya harus menggunakan pendekatan kemanusiaan.
Menurutnya, elemen gerakan pemuda Makassar selalu didorong oleh kekuatan moral dan politik. Dalam  kacamata Zul, isu Palestina tidak punya hubungan ekonomi dan politik dengan Indonesia secara langsung, ia hanya bisa menjadi isu bersama ketika diletakkan menjadi isu kemanusiaan. Ketika didekati dengan ekonomi dan politik, maka dikhawatirkan akan menjadi bias, selalu elemen politik yang bermain.
Baginya, HMI sebagai elemen gerakan, harus selalu merespon isu kebangsaan dan kemanusiaan, karena itu agenda utama kita adalah pembenahan internal, peningkatan pengkaderan SDM. Dengan demikian, keseimbangan internal dan ekternal akan terjaga, di samping kader HMI punya bobot SDMnya juga punya respon yang tepat terhadap dinamika diluar.
Sejam kemudian kami berbicang dengan Fauzi, mantan Ketua Cabang HMI Makassar 2008-2009. Akivis yang dikenal sebagai ideolognya HMI Makassar ini beropini, Palestina hendaknya menjadi problem umat Islam dunia, dan terus menjadi agenda permanen tentang bagaimana Palestina menjadi merdeka. Dalam konteks Indonesia, masyarakat muslim Indonesia dan pemerintahnya mempunyai pemihakan yang jelas. Dalam konteks pengkaderan, seyogyanya materi Palestina harus masuk agenda HMI, di sana juga harus ada propaganda ke masyarakat tentang sikap anti-zionis. HMI Makassar harus punya sikap jelas, tidak hanya sikap yang reaksioner. Aktivis HMI asal Bima ini melihat ada kaitan antara sikap reaksioner terhadap kasus Palestina dengan kesadaran kader.
Sebagai sosok yang dikenal sebagai ideolog, kami pun bertanya tentang gambar para tokoh dunia yang tertempel di dinding sekretariat HMI, di sana ada Imam Khomeini, Che Ge Vara, Gus Dur, Aa Gym, Ir. Soekarno, dan Albert Einstein. Kami bertanya lebih jauh kepada Fauzi, spirit apa yang bisa diambil dari para tokoh ini bagi perjuangan Palestina. Aktivis kalem ini menjawab, Imam Khomeini punya paradigma anti-Israel, dibuktikan dengan sikapnya yang anti Reza Pahlevi. Dia tokoh pembebas Palestina, dan pesan beliau ini harusnya terus dikumandangkan. Konteks Iran dan Indonesia memang berbeda, tapi pada dasarnya pandangan kita sama yaitu melihat Palestina sebagai bangsa teraniaya. Jadi, pembebasan Palestina adalah wajib!
Gus Dur? Beliau memang mendukung Palestina tapi juga menjalin kerja sama dengan Israel, dan sikap ini tidak cocok dengan model gerakan kita, karena ambigu. Lalu Che Ge Vara, dia mempuyai sikap pemberontakan terhadap imperialiasme, dan saya kira zionis mempunyai watak imperialisme, jadi spiritnya bisa dijadikan simbol perlawanan.
Bagaimana dengan Aa Gym? Ustad ini lebih ke arah pencerahan, tapi lebih ke moral umum, kalau mau dikritik, Aa Gym harus melakukan pencerahan kritis, bukan pencerahan moral yang pasif, tapi pencerahan moral yang progresif, misalnya pemberontakan terhadap imperialis.
Ir. Soekarno, terkenal dengan ajaran sikap kemandirian sebagai bangsa, konsep trisakti, kemandirian politik, ekonomi, dan budaya. Dari awal, beliau anti imperialisme, jadi spirit yang bisa diambil adalah melawan kedigdayaan Israel. Soekarno bisa juga diambil sebagai Islam kiri, Islam perlawanan. Jadi ada kemandirian dalam perlawanan, tidak ada intervensi dari Amerika. Kalau ada intervensi, maka gerakannya akan melunak.
Terakhir Albert Ei­­­nstein, bisa kita petik semangat sainsnya. Dalam hal ini harusnya umat Islam menciptakan kemajuan teknologi agar bisa mengimbangi Israel.
Nonton Film Palestina (Lokasi LK II HMI)
Malam hari, pukul 10.00 WITA kami pun diantar oleh Fauzi bersilaturahmi ke acara LK 2 (Latihan Kader) HMI MPO. Tempat pengkaderan berlangsung di dalam wilayah benteng Somba Opu (Somba= menyembah, opu = tuan, artinya pengabdian terhadap kesultanan).
Di wilayah benteng ini, terdapat duapuluh tiga rumah adat, seperti sebuah miniatur kota Sulawesi Selatan. Para peserta LK menempati beberapa rumah adat.
Informasi yang kami dapat, peserta LK HMI di Makassar dihadiri sekitar 47 peserta dari tujuh cabang, di antaranya Sorong, Bima, Kendari, Gorontalo, Makassar, dan Jena. Latihan Kader II kali ini bertema, “Anatomi pemikiran HMI, Upaya Meneguhkan Jangkar Peradaban Profetik”. Diketuai oleh Ashari Burhan, dan sebagai penanggung jawab ketua batko, Asranuddin. Menurut sang ketua batko, tempat latihan kader ini mempunyai nilai sejarah perlawanan yang tinggi. Kita mengharapkan kader mendapatkan spirit perlawanan dari Sultan Hasanuddin.
Kamipun mencoba menghubungkan semangat ini dengan semangat perlawanan terhadap Israel. Dalam pandangannya, isu Palestina biasanya disadari sebagai sentimen agama bagi peserta LK 1, akan tetapi pada saat LK 2 ini bisa didorong ke arah isu kemanusian. “Sebenarnya sempat juga ada intruksi PB untuk menghimpun relawan ke Palestina,” tambah Asranuddin.
Sesaat kemudian kami pun dipersilahkan menyampaikan materi. Waktu menunjukkan pukul 10.00 WITA. Sebelum diputarkan film sebagai bahan diskusi, kami menghantarkan isi dari film kepada peserta. Film ini berdurasi tiga puluh tujuh menit, diawali dengan perkenalan profil lembaga VOP (Voice of Palestine), kemudian film sejarah Palesina, Kembang Jiwa (pandangan politik Imam Khomeini) dan Caravan to Gaza, kegiatan terakhir lembaga. Kami tambahkan, film ini cukup singkat sehingga kami mengharapkan  peserta memperhatikannya dengan jeli.
Usai diputar, beragam komentar pun muncul. Muhidin, pengurus koordinator yang membawahi komisariat Makassar Barat, Universitas Negeri Makassar (UNM), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, YPUP, Yapika berkomentar, “Sebagai negara mayoritas muslim kita wajib mensupport Palestina. Ini bisa dibentuk atmosfirnya saat khotbah Jumat.”
Rahmad, utusan dari komisariat  Fakultas Ushuludiin, UIN Alauddin Makassar menambahkan, “Peristiwa Palestina sekarang adalah peristiwa autswith, seperti halnya yang menimpa orang Yahudi di Eropa. Kita bisa melihat Hizbut Tahrir di Indonesia dan membandingkannya dengan Revolusi Islam Iran yang mempunyai kemurnian dasar perjuangan.”
Jufrin, peserta dari cabang Bima, Nusa Tenggara Barat, berkomentar lain, “Solusi Palestina masih jauh, kita tidak bisa menyaksikan keadilan di sana.”
Hamzah, peserta dari cabang Makassar, “Dalam film tadi ada nilai-nilai ketauhidan yang ada dalam Revolusi Islam Iran.”
Abu Bakar, peserta dari cabang Makassar, pengurus korkom, Sulawesi Selatan, “Peran PBB mandul pada saat misi kemanusiaan dunia telah berlangsung.”
Laode Arman, dari Kendari, “Israel itu sangat brutal dan melanggar hukum internasional.”
Rudin dari cabang Gorontalo, mendukung setiap misi kemanusiaan untuk warga Gaza. Fitri Rahma, cabang Makassar, dari Unismuh, Makassar, mempertanyakan tentang hak pulang warga Palestina dan peran pemerintahan Palestina sekarang. Sumanto dari Menado, mempertanyakan alasan holocoust dijadikan pembenar pendudukan Israel terhadap warga Palestina. Mempertanyakan juga alasan pihak Inggris dalam membantu terwujudnya Israel Raya.
Rustaman Al-Katiri, dari Maluku, “Kebijaksanaan Indonesia Lemah, PBB jelas memihak Israel, abai kemanusiaan. Padahal, Israel jelas melakukan kejahatan kemanusiaan.”
Yanti dari Sorong, “Israel melakukan pencaplokan, tapi PBB justru memihak Israel.  Peranan China, sebagai negara Asia tidak ada.”
Komentar pun terus bergulir penuh semangat. Pukul 00.30 WITA, diskusi pun usai.
Esoknya, sore hari, 30 April 2011, kami coba berdiskusi lebih dalam tentang Palestina dengan peserta terjauh dari Sorong. Ketiganya mahasiswi STAIN Sorong, Aisyah, Yanti, dan Sari. Mereka mulai bercerita suka-duka perjalanan keberangkatan mereka menggunakan kapal, dimulai dari pelabuhan Sorong pukul 01.00 WITA, lalu singgah di Ambon, pukul 06.00 WITA, kemudian berangkat dari Ambon pukul 09.00 pagi dan sampai Makassar 06.00 sore.
“Perjalanan kami berawal tanpa dana,” kata Aisyah, “tapi dalam waktu kurang 7 jam, terkumpul Rp. 1.100.000. Karena tidak cukup, kami terpaksa membeli tiket anak, dan alhamdulillah lolos dari petugas. Motivasi kita ikut LK adalah mencari ilmu.”
Katanya lagi, mahasiswa sorong mendapatkan informasi Palestina dari bulletin Al-Islam, buletin Hizbut Tahrir. Pada Januari 2010, ada penggalangan dana untuk Palestina dari Lembaga Dakwah Kampus, gabungan beberapa kampus. Donaturnya datang dari berbagai elemen masyarakat, tidak hanya muslim saja.
Tentang film tadi malam, menurut mereka “beda”. Ada sejarah tentang Palestina yang sebelumnya belum pernah mereka lihat. Ada optimisme, tema kemanusiaan bisa menjadi perekat seluruh agama dan suku. Menarik untuk menjadikan Palestina jadi bahan LK, karena dinamika Palestina mempunya efek imperilasime global. Selama ini pencitraan masalah Palestina menjadi masalah isu agama yang dihembuskan pihak Zionis ternyata berhasil. Indikasi ini bisa dilihat manakala kita jadi canggung mewacanakan isu ini ke teman-teman nonmuslim.
Belajar dari Benteng Perlawanan, Somba Opu
benteng-somba-opuHari nampak sore, kami tertarik menyusuri benteng. Ditemani Asranuddin, kami mencoba menggali lebih jauh tentang sejarah perlawanan orang Makassar. Sepanjang perjalanan dengan motor, ketua Batko bercerita tentang karakter orang Makassar. Ada tiga konsep ajaran adat yang masih dipegang, yaitu sirri (harga diri), pace (empati terhadap penderitaan), dan lempu (kejujuran). Semakin lempu-nya tinggi, semakin sirri-nya tinggi, pace-nya juga tinggi. Jadi, ada watak dasar dari orang Makassar untuk mudah berempati terhadap sesama, apalagi penderitaan Palestina. Ada juga watak getten (ketegasan), konsistensi dalam berprinsip.Penjelasan ketua batko ini nampaknya mendapatkan pembenaran ketika kami sampai di benteng Somba Opu. Watak perlawanan orang Makassar semakin jelas ketika menyusuri benteng. Ada diorama perlawanan di sana.

Di depan benteng, kami menemukan papan bertuliskan sejarah Benteng Somba Opu. Benteng ini dipertahankan oleh Sultan Hasanuddin, sultan ke-16, yang terlahir dengan nama Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe, dan setelah masuk Islam diberi tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Sultan Hasanuddin saja.

Sultan ini putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Karena keberaniannya, Sultan Hasanuddin dijuluki oleh Belanda De Haantjes Van Het Oosten (ayam jantang), atau jago dari Benua Timur.

Waktu itu Belanda diwakili kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.  Pada tahun 1666, dibawah pimpinan Laksamana Corenlis Speelman, kompeni berhasil menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Sebaliknya, setelah naik tahta Sultan Hasanuddin justru menggabungkan kerajaan-keraajan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.

Pertempuran terus berlangsung, kompeni menambah pasukannya hingga 18 November 1667, Gowa terpaksa menandatangani perjanjian Bungaya. Di sini Kerajaan Gowa dirugikan. Sultan Hasnuddin  mengadakan perlawanan lagi. Pihak kompeni kemudian meminta bantuan Batavia, hingga akhirnya Belanda berhasil menerobos benteng terkuat di Gowa, 12 Juni 1669.  Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.
Sengitnya perlawanan terasa sekali ketika kami menemukan sisa meriam yang melengkung. Menurut penjelasan Asranuddin, meriam itu melengkung karena dipakai bertempur dalam waktu yang cukup lama. Terlihat meriam ini dikeramatkan, banyak bunga bertaburan, konon meriam ini bisa berbelok sendiri mencari target musuh.
Asranuddin menyimpulkan, jika seandainya benteng ini tidak jatuh, mugkin penjajahan Indonesia timur tidak ada, karena letak Sulawesi selatan adalah pintu masuk ke arah timur. Semua hasil bumi dari Maluku dibawa ke Makassar yang menjadi pusat perdagangan. VOC benci karena orang Maluku berdagang dengan orang Makassar. Sultan Hasanuddin kemudian menjadi simbol perlawanan masyarakat Makassar melawan Belanda.
Kami berjalan terus menyusuri benteng, ketua batko menerawang menjelaskan pada kami, begitulah perlawanan Sultan Hasanuddin. Mereka sebagai anak cucuknya akan terus menjaga semangat perlawanan terhadap imperialism. Kalau dulu Belanda, sekarang dalam bentuk imperialisme global.Asranuddin menggarisbawahi, “Kalau kita lihat peta gerakan Mahasiswa Makassar, sejak 2005 sebenarnya sudah mulai mewacanakan perlawanan terhadap imperialisme global, cuman belum sampai ke zionisme. Kebanyakan kader HMI MPO dekat dengan kelompok kiri, tetapi banyak juga mahasiwa dari elemen tertentu menjadi komprador, sehingga gerakannya tidak murni, terkooptasi oleh kepentingan elit.”

Langit mulai gelap, kami menuju sekretariat untuk istirahat.

Berdiskusi dengan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)

Sabtu, 30 April, 2011, pukul 19.30 WITA, di kantor KNPI Sulsel, kami diberi kesempatan berdiskusi dengan aktivis IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) di sela acara training IMMAWATI (Gerakan bidang keperempuanan) yang dihadiri sekitar 30 peserta.
Karena sempitnya waktu, diskusi kita buka hanya dengan pemutaran video perjalanan Caravan to Gaza yang berdurasi tiga menit dan dipandu oleh Yusnaini. Yusnaini adalah ketua bidang keilmuan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Selatan, juga peneliti LSM, PATKIROH, Pusat Telaah Informasi Regional.
Ada beberapa respon dari peserta. Hernawati, pimpinan komisariat, IMM Fai Universitas Muhammadiyah Makassar, bingung mempertanyakan kejelasan misi Caravan to Gaza yang dilakukan dari Aktivis dunia. Jamiani, pimpinan cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kaputen Bulukumba, bertanya tentang tujuan Gaza diblokade dan bagaimana kondisinya Gaza sekarang. Diskusi berakhir berjalan sekitar satu jam, kami pun masih penasaran ingin tahu lebih dalam respon aktivis Muhammadiyah Makassar.
Di lantai bawah gedung KNPI, Yusnaini mencoba merangkumkan. Menurutnya, “Gerakan untuk Palestina di Makassar hanya sporadis, tetapi wacana dialog selalu dikedepankan, seperti langkah yang diambil Pak Dien Samsudin. Akes informasi juga penting, ini mempengaruhi kecepatan dan ketepatan dalam mengambil sikap”.
Angkatan Muda Muhammadiyah sebenarnya juga bisa berseberangan dengan Pak Din. Menurut Yusnaini, IMM harusnya lebih mendukung bukan sebatas moril saja, kalau bisa juga material.
Yusnaini menambahkan, Israel bagian dari kejahatan internasional. Di advance training Darul Arkom IMM, sebenarnya Paletina sudah dibahas secara umum, tapi untuk pendalaman dilakukan oleh individu-individu di luar forum.
Secara kebetulan kami sempat bertemu dengan Muhammad Ali Akbar, mantan ketua BEM Universitas Negeri Makassar, juga aktivis Hizbut Tahrir.  Ia berkomentar, “Gerakan zionis dan kapitalisme itu sama, new word order. Bantuan kemanusiaan berupa material hanya mengobati sementara, yang urgen adalah dorongan politik permanen.”
Aktivis ini setuju saja dengan gerakan sipil internasional tapi harus waspada, karena ada kemungkinan penyusup.
Menanggapi animo masyarakat Makassar terhadap isu Palestina, dapat ditarik kesimpulan bahwa kesadaran masyarakat di sini terlihat masih reaksioner. Dibutuhkan pengkondisian untuk mengembangkan rasa kemanusian (sense of humanity) atas isu ini.
Isu NKRI yang sekarang marak di Makassar juga menjadi penghalang masyarakat untuk membantu Palestina. Seolah kalau mendukung gerakan kemerdekaan Palestina berarti tidak setia pada NKRI. Padahal sebaliknya, justru karena mendukung kemerdekaan Palestina, kita telah melaksanakan dan mencintai amanat UUD 1945, bahwa penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi.
Malam semakin larut kamipun bergegas istirahat menuju sekretariat LKIMB (Lembaga kajian ilmiah mahasiswa bertaqwa).
Markas Mahasiswa Bertaqwa
imm-makassar
Makassar, Minggu pagi, 1 Mei 2011, pukul 8.00 WITA. Di depan sekretariat Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa Bertaqwa (LKIMB), Universitas Negeri Makassar (UNM), kami menikmati kopi bersama.
LKIMB merupakan organisasi internal kampus UNM Makassar. Lembaga ini berdiri untuk semua mahasiswa, tapi seiring berjalan waktu, pesertanya mayoritas muslim. Bertakwa artinya mahasiswa beragama. Pengurusnya berjumlah 30 orang, beranggotakan ribuan dan merupakan representasi mahasiswa Indonesia Timur. Kegiatannya antara lain diskusi, seminar, tapi lebih banyak gerakan intelektual. Coraknya intelektual dan kebanyakan wacana pluralisme.
Hal ini dijelaskan oleh Muhammad Yassir, mantan ketua 2007-2008. Anggota majelis syuro 2011 ini mengatakan, “Corak kepengurusan sekarang adalah revolusi, tiga kepengurusan yang lalu bertema pluralisme.  Soal Palestina, sering kita adakan diskusi ketika terjadi terjadi penyerangan. Palestina bagi saya adalah isu kemanusiaan dan pelanggaran HAM, bukan isu agama. Karena, kalau isu agama, maka nanti menjadi inklusif milik umat, padahal ini murni penjajahan. Kita harus bereaksi sesuai dengan kemampuan, bereaksi karena isu kemanusiaan berarti sesuai dengan UUD 1945. Kalau bereaksi karena agama, berarti kita menyudutkan agama Yahudi, padahal zionis beda dengan Yahudi.”
Isu Palestina pernah juga dibahas dalam talk show, 2008-2009. Solusinya, menurut Yassir, setiap organisasi yang setia pada kemanusiaan harus mencegah sesuai dengan kemampuan, mulai dengan tangan, dengan hati, dengan talkshow dan demo. Sudah seharusnya negara-negara dunia terutama yang berpenduduk muslim membantu Palestina. Secara fisik bisa mengirimkan pasukan dan secara diplomasi bisa memaksimalkan peran forum internasional seperti Liga Arab. Untuk PBB, harapan saya nihil.
Ketika kami tanya gambar Soekarno, Ali Syariati, dan Imam Khomeini yang menempel di dinding sekretariat, mahasiswa jurusan matematika ini mengatakan, ketiga tokoh ini mempunyai kesamaan anti-imperialisme, tapi bukan berarti budaya Iran yang kita pakai, tapi spiritnya.
“Saya menyukai ide Syariati bahwa kepempinan dipegang oleh intelektual, kalau Imam Khomeini dipegang ulama, sedangkan menurut Soekarno kepemimpinan dipegang oleh pada pemuda. Saya bukan syiah, tapi saya menggunakan pemikir syiah untuk menganalisa masalah,“ tegasnya.
Ada etika dalam sekretariat LKIMB, yaitu etika pluralisme. Etika ini dipegang seluruh anggota, semua bisa berbeda pendapat menggunakan corak pemikirannya, tapi satu hal, etika penyampaiannya harus dijaga. Hal ini juga dikatakan Fauzi yang juga mantan aktivis LKIMB. Dalam lembaga komunitas LKIMB, ada dari komunitas Wahdah, Syiah, HMI MPO, HMI DIPO, Islam kiri, dan lain-lain tapi mereka semua saling menghormati.
Geneologi Gerakan Mahasiswa Makassar
Pukul 10. 00 WITA, kami menuju kampus UNM, bermaksud bertemu dan mewawancara dengan salah aktivis Wahdah. Tapi berhubung masalah teknis, wawancara dibatalkan. Kami pun sarapan sebentar.
Di sela-sela sarapan, Fauzi bercerita tentang geneologi pemikiran mahasiswa Makassar. Ada corak pemikiran dominan mahasiswa Makassar. Kalau mahasiwa UNM lebih ke pergerakan dan wacana Islam kiri, beda lagi dengan UNHAS, mereka lebih banyak mengkonsumsi pemikiran Barat. Kalau mahasiswa UIN lebih banyak wacana pemikiran Islam secara umum, seperti Muhammad Hanafi, Ali asghar, Muhammad Qutb. Pemikiran seperti Murthada Muthahari, Mulla Sadra, Ali Syariati banyak mewarnai pemikiran anak-anak HMI MPO, tapi tidak sampai praktek fikih.
Mengenai gerakan Wahdah, tambah Fauzi yang juga mantan aktivis Wahdah 2006, gerakan ini lebih banyak menekankan pembinaan aklaq berdasarkan hadits-hadits seperti Bukhori. D seluruh Indonesia, gerakan ini pusatnya ada di Makassar. Sifat gerakan ini hanya dakwah saja.“Pembebasan”,  pecahan LMND

Pukul 08.00 WITA, Minggu, 1 Mei 2011. Kami berdiskusi dengan tujuh anggota Pembebasan, pecahan dari LMND (Liga Mahasiswa Nasional Demokratik) Makassar. Dayat, sang ketua memberi komentar, “Saya setuju dengan pembangunan fron bersama secara internasional. Untuk sementara, kita bebas dulu seperti Venezuela, kita bangun konsep negara anti imperialisme. Kita bisa belajar dari Iran, karena mereka mempunyai daya tahan kuat, bahkan menjadi peninjau blok Alba. Kalau Indonesia susah, karena tidak mempunyai karakter politik yang jelas. Tapi saya setuju, Indonesia membuka fron dengan blok Amerika latin.”
Jika ditanya efek kemerdekaan Palestina akan mempunyai efek besar terhadap pelemahan imperialime global, aktivis Sulawesi Utara ini setuju saja. Tapi, katanya, ia belum punya cukup data yang kuat tentang keterkaitan antara imperialisme dengan zionisme. Namun, ia tertarik dengan pembentukan fron gerakan internasional anti-imperialisme karena musuh bersamanya real, zionisme.
Pelantikan HMI Makassar
hmi-mksr
Senin, 2 April 2011. Siang hari, dari lantai atas Gedung  Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran 66, Jl. Talla Salapa, No. 54, Makassar Sulawesi Selatan, HMI cabang Makassar melantik pengurus baru, sekaligus seminar pendidikan tentang PP 66. Sementara itu, di lantai bawah kami berbincang dengan  Najamudin, pemuda asal Kolaka, Kendari. Dia adalah mantan ketua BEM STIE YPUP (Yayaasan Ujung Pandang) periode 2010-2011 dan sekarang aktif di HMI MPO.
Aktivis asal Kolaka ini mempunyai pandangan tentang Palestina. Menurut pengamatannya, hanya setelah terjadi kejadian-kejadian luar biasa di Palestina, mahasiwa Makassar baru merespon. Selain peristiwa itu, dianggap biasa.
Gerakan pembebasan Palestina terhambat di kalangan kampus karena kurang dukungan finansial dan moral dari teman-teman. Diskusi mahasiswa kampus hanya masalah politik dalam negeri dan tidak ada informasi dan pencerahan untuk kasus Palestina.
Sebenarnya banyak mahasiwa peduli dengan Palestina tapi takut bergerak dikarenakan ada ketakutan terhadap proses identifikasi terhadap kelompok tertentu, misalnya Hizbut Tahrir, KAMMI, atau yang lebih ekstrim anggota NII. “Kita takut dicap menjadi bagian dari organ mereka,” katanya.
Beda dengan Chozin. Ketua PB HMI ini setelah melantik kepengurusan baru, ia kami mintai pendapat. Menurutnya, perlu ada materi tambahan bagi pengkaderan HMI yang bisa menghubungkan zionisme dan imperialisme global. Misalnya, institusi global seperti World Bank, IMF, Fed yang dipunyai swasta dan segelintir bankir. Mereka inilah orang-orang yang berhaluan zionis. Mereka punya komunitas iluminati, kelompok elit pemuja setan yang mengkontrol dunia. Merekalah yang menguasai FOX, CNN, Dysneland. Merekalah yang mengatur dunia.
Hujan menetes tanpa henti sepanjang malam, bumi Makassar pun basah. Selasa, 3 Mei 2011, pukul 07.00 WITA, kami kembali ke Jakarta. Setelah lima hari berdiskusi dengan berbagai elemen mahasiswa Makassar, kami berkesimpulan bahwa terdapat keragaman opini tentang Palestina dalam gerakan mahasiswa Makassar. Tapi, ada satu benang merah yang bisa dirajut, bahwa imperialisme dunia bergerak searah dengan gerakan zionisme. Meski di setiap organisasi tensi opininya berbeda-beda, tapi ada satu bahasa yang bisa menggemakan, lawan penindasan dunia!!!!
Dilaporkan oleh Maruf Hashem
Tags: , ,

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.