nasrallah

Pada hari Jumat Sayyed Hasan Nasrallah mengumumkan bahwa setelah operasi Quneitra, Hizbullah tidak akan lagi peduli dengan apa yang disebut “rules of engagement” dengan Israel dalam pertempuran atau penyerangan mendatang. Hizbullah Menjelaskan bahwa pihak perlawanan akan menanggapi pelanggaran apapun dalam waktu dan tempat yang dipilihnya.

Sekretaris Jenderal Hizbullah menempatkan aturan baru untuk konfrontasi dengan musuh mereka Zionis Israel, dalam sebuah pernyataan yang disampaikannya dalam upacara untuk menghormati para syahid pemberani yang terbunuh di Quneitra pada hari Minggu. Hizbullah yakin bahwa “perlawanan di Lebanon dalam persiapan dan kesiapan penuh”.

Beliau membahas keluarga para syahid dan beliau menyampaikan kepada keluarga syahid belasungkawa dan ucapan selamat karena orang yang mereka cintai telah mencapai peringkat tertinggi. Lebih lanjut beliau berterima kasih kepada semua orang yang turut serta dalam solidaritas dengan Hizbullah dan menyampaikan rasa belasungkawa terutama di Palestina, Suriah, Irak, Yordania, dan seluruh dunia Arab dan Islam.

Memperingati para syahid Quneitra, Sayyed Nasrallah mengungkapkan kasih sayang dan cinta yang tulus untuk mereka, Sayid Nasrallah menyatakan “Kami mengucapkan selamat dan iri hati terhadap Anda dan berdoa kepada Allah semoga memberi kita kehormatan ini suatu hari nanti … Anda telah meninggalkan dunia ini dengan segala kepentingannya dan pindah ke dunia kebahagiaan sejati … ”

“Kelompok syahid ini terdiri dari tiga generasi, dan dengan kesyahidan Jendral Dadi [Brigadir Jenderal IRGC Mohammad Ali Allah Dadi] dan [Komandan Hizbullah Mohammah Issa] Abu Issa, Kita bisa melihat bahwa para pemimpin selalu hadir dengan prajurit, dan ini adalah rahasia perlawanan. Kelompok syahid ini yang terdiri dari anak-anak dan keluarga syahid mengatakan kepada musuh ketika mereka mengancamnya: Apakah Anda mengancam saya dengan kematian? baik, kematian bagi kami adalah suatu norma dan Allah menghormati kami dengan kesyahidan.” Lanjut pemimpin Hizbullah tersebut.

Lebih lanjut pemimpin Hizbullah tersebut mengatakan “Keluarga-keluarga ini membawa ideology ini dan percampuran darah Lebanon ini dengan darah Iran di wilayah Suriah melambangkan penyebab umum, takdir, dan pertempuran yang membawa kita kepada kemenangan …” Sayyed Nasrallah menekankan dan menunjukkan bahwa “para syahid Quneitra membuktikan kepada dunia bahwa mujahidin dari Hizbullah tidak seperti apa yang coba dikatakan oleh beberapa Negara satelit, masih berada di perbatasan dan akan tetap di garis depan karena di dunia ini tidak ada yang dapat menahan mereka dengan apa yang mereka cintai. ”

Beliau menunjukkan bahwa “daerah kita telah menderita setidaknya sejak tahun 1948 dari kanker yang disebut” Israel, sel kanker, negara teroris, dan kuman korupsi Itu akan selalu seperti itu, tetapi dalam beberapa tahun lalu itu kembali ke metode lama dan ditambahkan ke korupsi dan kesombongannya. Karena masih mengancam, menduduki, menghancurkan, dan membunuh. Hari ini Israel berpikir bisa melakukan semua itu tanpa seorangpun yang bisa menghentikannya,” Sayyed Nasrullah juga mengecam “Liga Arab” atau Persatuan Negara – Negara Arab karena mengingat bahwa Liga Arab tidak pernah memainkan peran apapun yang berguna.

Menjelaskan operasi Quneitra, Sayyid Nasrallah menyatakan bahwa “Pada hari Minggu, pesawat Israel menargetkan dua kendaraan yang membawa tujuh bersaudara dan membunuh mereka semua sementara mereka sedang melakukan peninjauan di Quneitra. Keputusan itu diambil oleh staf khusus PM Israel dan pemimpin oposisi diberitahu tentang hal itu, jadi ada keputusan Israel untuk menargetkan kelompok ini, dan operasi itu sangat mirip dengan kasus di mana mantan Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayyed Abbas Al-Moussawi dan istri beserta anaknya dibunuh.”

“Israel tidak segera mengklaim bertanggung jawab atas serangan hari Minggu karena mungkin berpikir bahwa Hizbullah akan diam, dan tidak akan mengumumkan tentang hal itu atau mungkin Israel berpikir bahwa kita sekarang dalam keadaan lemah di kalangan pendukung kami. Namun, kejutan pertama untuk Israel adalah bahwa Hizbullah langsung mengumumkan operasi dan menyatakan nama-nama para syahid hanya beberapa jam setelahnya, ” lanjut Sayyid Nasrullah.

Membantah semua klaim Israel bahwa kelompok ini hadir di Quneitra untuk melancarkan serangan terhadap Israel atau untuk mempersiapkan serangan, Sayyed Nasrallah bertanya-tanya: “Ribuan pejuang “Front Nusra” ada di Golan dengan senjata mereka. Apakah Front Nusra itu? Front Nusra adalah Al-Qaeda versi Suriah, organisasi ini dicap sebagai teroris oleh seluruh dunia … dan memiliki kehadiran militer yang luas di Golan. Kenapa Netanyahu tidak khawatir tentang hal itu? Kenapa Yaalon tidak khawatir tentang hal itu , dan malah melindungi mereka, membuka rumah sakit untuk mereka, dan membayar kunjungan mereka? Nah, Israel yang tidak khawatir tentang keberadaan semua itu di perbatasannya, mengambil keputusan berbahaya karena khawatir terhadap kehadiran dua mobil yang membawa tujuh pria yang hanya memiliki senjata pribadi mereka. ”

Dari titik ini, beliau menekankan bahwa Hizbullah tidak akan melupakan Israel sebagaimana yang diinginkan orang banyak, dan tidak akan pernah melupakan orang-orang Palestina, tidak akan anak-anak dan cucu-cucunya lupa tentang mereka.

Beliau menekankan aspek yang menyakitkan dalam hilangnya para syahid ini. Namun, Sayyed Nasrullah meyakinkan bahwa, “kami hanya menganggapnya sebagai suatu berkah ilahi, dan ini adalah apa yang harus dipahami oleh Israel, dan seperti Sayyeda Zainab mengatakan ketika ditanya apa yang dia pikirkan tentang kesyahidan kakaknya: Saya hanya melihatnya sebagai kebaikan! ”

Adapun beberapa analisis yang mengatakan Iran atau Suriah akan mencoba untuk mencegah Hizbullah dari menanggapi serangan karena kepentingan internasional mereka, Sayyid Nasrallah meyakinkan bahwa “Tidak ada satu pun teman-teman kami yang menerima bahwa kami dipermalukan atau dibunuh dan hanya duduk serta menonton … dan Israel harus tahu bahwa dia tidak bisa membunuh orang dan pergi tidur dengan damai seolah-olah apa yang dibunuh hanyalah hama!”.

Pemimpin Hizbullah itu meyakinkan bahwa sejak saat pertama setelah operasi, pihak perlawanan belajar bagaimana untuk membalas dendam dan tidak ada keraguan sedikitpun karena “Israel harus dihukum dan ini adalah pengorbanan yang layak”.

Sayyid Nasrullah juga menyatakan, “Pencapaian pertama para syahid ini adalah bahwa Israel sejak Minggu hingga Rabu mengalami ketegangan dan waspada karena menunggu respon dari Hizbullah,” kata beliau. Beliau juga menambahkan bahwa “Pada hari Rabu, adalah berkat ilahi, dan operasi berlangsung selama puncak kesiapan dan mobilisasi Israel, namun Israel tidak memiliki petunjuk tentang apa yang terjadi, bahkan setelah operasi itu dilakukan. ini adalah pesan untuk teman-teman sebelum musuh.”

“Kesimpulannya, mereka membunuh kami di tengah hari (sekitar 11:30), sebagai balasan, kami membunuh mereka di tengah hari (sekitar 11:25), dua kendaraan dan beberapa tambahan sebagai balasan dua kendaraan, kematian dan cedera sebagai balasan para syahid, rudal sebagai balasan rudal, hanya ada satu perbedaan antara Israel dan kami, yang pertama adalah bahwa mereka adalah pengecut dan setengah laki-laki karena mereka hanya berperang dari balik perisai dan menusuk dari belakang, sedangkan pria perlawanan yang pemberani berperang dengan berhadap-hadapan. Selain itu, Israel tidak berani mengklaim bertanggung jawab atas operasinya, sementara pihak perlawanan segera mengklaim bertanggung jawab setelah operasinya,” Kata Sayyed Nasrullah.

Sayyed Nasrallah menyatakan terima kasih bagi para pejuang dan pemimpin perlawanan, khususnya mereka yang telah melakukan operasi Shebaa dan meyakinkan bahwa Israel hanya mencapai kegagalan dan menyesal sampai sekarang. Sementara pihak perlawanan mencapai kemenangan, menunjukkan bahwa musuh Israel tidak mampu menghadapi pihak perlawanan di darat.

Akhirnya, beliau meyakinkan kembali bahwa kelompok Takfiri bersenjata, khususnya yang ada di Golan adalah sekutu Israel dan mereka mirip dengan pasukan Lahd, kolaborator Israel yang berada di Lebanon selatan.

Dia menambahkan bahwa pihak perlawanan tidak menginginkan perang, meskipun tidak takut menghadapinya, dan memberlakukan suatu persamaan baru dalam konflik melawan musuh Zionis, “Setelah operasi Quneitra, perlawanan tidak lagi peduli dengan apa yang disebut “rules of engagement” atau “aturan keterlibatan” atau dengan menghadapi agresi dan pembunuhan, tidak lagi mengakui daerah tidak terkait, dan itu adalah hak kami yang sah dan legal untuk menghadapi pelanggaran setiap saat, di setiap tempat dan dengan cara apapun.”

Adapun keputusan Israel untuk menghindari perang, “Kami sadar bahwa Israel sedang mencoba untuk menghindari konfrontasi militer dan akan menuju untuk mencari orang-orang yang telah menghinanya pada hari Rabu untuk membunuh mereka. Berdasarkan itu, saya mengatakan bahwa di masa lalu kita terbiasa untuk membedakan respon kita antara suatu pembunuhan atau suatu tindakan militer, tapi hari ini jika ada anggota pihak perlawanan terbunuh, kita akan mempertimbangkan hak kita untuk merespon dalam waktu dan tempat yang tepat, ” Sayyed Nasrallah mengumumkan.

Sumber: Al-manar, published Feb 2th 2015

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.