Teror Paris

Tidak mengherankan bahwa pemerintah Muslim, organisasi dan individu di seluruh dunia telah mengutuk pembunuhan keji dari 12 orang – 10 wartawan dan dua polisi – di markas mingguan satiris, Charlie Hebdo, di Paris pada pagi menjelang siang 7 Januari 2015. Tindakan pengecut dari teror ini, diduga dilakukan oleh dua orang Muslim, melanggar setiap norma dalam kepercayaan Islam.

Jika memang benar bahwa para pembunuh itu mencoba untuk membalas memori yang suci dari Nabi Muhammad yang telah menjadi subyek dari ejekan dan penghinaan terus menerus di mingguan itu, membunuh kartunis dan editor jelas merupakan kekejian. Seseorang harus menanggapi kartun-kartun satiris dengan kartun dan karya seni lainnya yang mengekspos prasangka dan kefanatikan dari kartunis dan editor Charlie Hebdo. Seseorang harus menggunakan kartun Charlie Hebdo sebagai platform untuk mendidik dan meningkatkan kesadaran masyarakat Perancis tentang apa yang sebenarnya diajarkan Al-Quran dan siapa sebenarnya Nabi Muhammad itu serta jenis nilai-nilai luhur yang membedakan hidup dan perjuangannya. Dengan membunuh orang-orang yang mengejek Nabi dengan cara barbar menunjukkan bahwa teroris tidak memiliki pemahaman sama sekali tentang bagaimana Nabi sendiri ketika menanggapi orang-orang yang menuangkan racun dan kebencian mereka kepadanya ketika dia menyampaikan pesan keadilan dan kasih sayang yang merupakan inti dari Islam kepada orang-orang Mekah dan Madinah pada awal abad ke-7.

Tentu saja, memprovokasi enam juta Muslim di Perancis dan lebih dari 1,8 miliar Muslim di seluruh dunia melalui cercaan dan penghinaan terus menerus yang ditujukan pada Nabi dan agama – meskipun melalui media kartun – tidak hanya benar-benar tercela tetapi juga penghinaan terhadap kerukunan antar umat beragama dan stabilitas sosial. Ini adalah contoh dari penyalahgunaan sembrono dari kebebasan berekspresi yang membawa banyak kesedihan untuk semua orang. Kebebasan berekspresi bukanlah kebebasan untuk merendahkan dan menodai seorang Nabi yang begitu dalam dihargai oleh jutaan Muslim. Jika para pendukung hak asasi manusia menganggap kebebasan beberapa kartunis sangat penting bagi peradaban manusia, mereka juga harus menunjukkan penghargaan terhadap kehormatan dan martabat seluruh orang. Tentunya, hak untuk melindungi martabat seseorang – martabat kolektivitas – juga merupakan hak asasi manusia.

Episode Charlie Hebdo telah menggarisbawahi lagi pentingnya melaksanakan kebebasan dengan rasa tanggung jawab mendalam. Pembatasan adalah bagian dari hak. Hal ini dilakukan dengan menyeimbangkan hak dengan pembatasan bahwa seseorang harus memastikan kesejahteraan keseluruhan.

Keseimbangan ini sangat penting pada saat seperti ini di Eropa. Perasaan negatif terhadap migran non-Eropa semakin kuat di berbagai belahan benua. Islamophobia merupakan bagian dari masalah ini sebagai sebuah fenomena yang telah berusia berabad-abad. Jika sikap terhadap Muslim dan imigran pada umumnya telah mengeras dalam beberapa tahun terakhir, itu adalah sebagian karena meningkatnya pengangguran dan ekonomi yang stagnan. Seperti yang sering terjadi dalam situasi seperti itu, “orang luar” menjadi kambing hitam.

Jika di tengah-tengah semua ini, unsur-unsur dari mayoritas, komunitas yang dibentuk di Eropa terus memprovokasi minoritas yang memandang agama dari perspektif yang berbeda dari mayoritas, dan jika beberapa individu dari minoritas itu bereaksi terhadap provokasi melalui kekerasan tak berperi kemanusiaan, ketegangan dan konflik akan terus terjadi. Inilah sebabnya mengapa kedua belah pihak harus bertanggung jawab dan terkendali.

Memang, baik mayoritas maupun minoritas harus menyadari bahwa aksi teror juga dapat dimanipulasi untuk melayani agenda beberapa aktor politik atau lainnya. Dalam konteks Charlie Hebdo, tidak seharusnya kita bertanya apakah pembunuhan pada 7 Januari itu juga merupakan semacam pesan kepada elit penguasa Perancis? Apakah beberapa kelompok mengirimkan suatu peringatan kepada elite bahwa seharusnya tidak mendukung upaya Palestina yang gagal baru-baru di Dewan Keamanan PBB untuk memperoleh dukungan dalam tujuannya mendirikan suatu negara berdaulat yang independen dalam jangka waktu yang singkat? Apakah kelompok itu merupakan dalang dibalik 7 Januari?

Pertanyaan semacam ini memperkuat kasus untuk penyelidikan independen terhadap pembantaian Paris yang sebaiknya ada di bawah naungan Sekretaris Jenderal PBB. Kebenaran di balik pembantaian itu dapat bercerita banyak kepada kita tentang terorisme itu sendiri di zaman kita.

Dr Chandra Muzaffar adalah Presiden dari International Movement for a Just World (JUST).

Sumber : Global Research, January 11, 2015

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.