jihadis-suriahSaat ini, United Nations Disengagement Observer Force (UNDOF), yang memonitor perbatasan gencatan senjata yang membagi Suriah dan Israel di Dataran Tinggi Golan, telah mengajukan laporan yang menuduh adanya kontak dan kerja sama antara Israel Defense Forces (IDF) dan pemberontak Islam Salafi (termasuk ISIS dan Al-Qaeda) yang saat ini terlibat dalam perang melawan Assad, Hizbullah, dan Iran.

UNDOF mengamati aktivitas di Dataran Tinggi Golan selama 18 bulan dan menemukan bahwa militer Israel telah memberikan perawatan medis gelap bagi para pejuang Islam yang terluka. Selain itu, surat kabar Israel Haaretz mengutip dari laporan itu di mana pemberontak bersenjata telah terlihat berinteraksi erat dengan militer Israel.

Perwakilan dari minoritas Druze Israel telah sejak lama mengeluhkan tentang hal ini, mencapai puncaknya dengan keluhan resmi yang diajukan bulan lalu dalam menanggapi dukungan logistik dan medis yang berkelanjutan dari pemerintah Israel untuk anggota front al-Nusra, yang merupakan afiliasi Al-Qaeda , dan ISIS, dua kelompok yang telah melakukan kejahatan biadab terhadap kemanusiaan di Suriah dan sekitarnya.

Dalam contoh lain yang dicatat oleh laporan PBB, anggota IDF terlihat memberikan sebuah kotak dengan isi yang tidak diketahui kepada pemberontak Suriah bersenjata. Selanjutnya terkait dengan kolaborasi ini, jet tempur Israel telah menyerang situs militer Suriah, serta daerah sekitar “zona aman” di dekat Bandara Internasional Damaskus, pada hari Minggu malam.

Menurut pernyataan publik yang dibuat oleh komandan Angkatan Bersenjata Suriah, Letnan Jenderal Ali Abdulla Ayoud:

“Agresi ini menegaskan bahwa Israel secara langsung mendukung terorisme di Suriah, di samping negara-negara Barat dan regional yang telah dikenal, meningkatkan moral organisasi teroris, yang dipimpin oleh Jabhat al-Nusra, lengan al-Qaida di Levant, dan ISIS,” demikian dikatakannya.

Israel dalam beberapa kesempatan telah menunjukkan ketidakpuasan dengan kampanye Barat untuk membantu membatasi ISIS di sepanjang Iran dan Suriah. Menurut laporan Haaretz pada 31 Oktober 2014, Komandan utara IDF menyesalkan intervensi Amerika terhadap ekstrimis Sunni karena akan membangkitkan “Blok Syiah” dari Lebanon, Iran dan Suriah:

“Saya percaya Barat ikut campur tangan terlalu dini dan tidak selalu dalam arah yang benar”. Pejabat IDF itu juga berfokus pada kekuatan militer Hizbullah dan ketidakpastian bahwa IDF bisa mengalahkan mereka dalam perang.

Hizbullah mengalahkan Israel dalam Perang Lebanon 2006, dan saat ini merupakan salah satu kekuatan terkemuka dalam pertempuran koalisi melawan Al-Qaeda dan ISIS di Suriah. Para pejabat Rusia, yang telah menekankan pentingnya melindungi hak-hak orang-orang Kristen dan minoritas dalam kebijakan luar negeri mereka terhadap Timur Tengah (tidak seperti Amerika Serikat), telah sepatutnya mencatat peran aktif Hizbullah dalam membela Kristen Lebanon dan Suriah dari kekerasan Al-Qaeda dan ISIS .

Wakil Menteri Luar Negeri Moskow, Mikhail Bogdanov, baru-baru ini bertemu dengan tokoh-tokoh kunci di politik Lebanon – termasuk Hezbollah – untuk membahas masalah ini dan pemerintah Assad telah membuat langkah maju yang signifikan dalam mengalahkan pasukan ekstremis Islam yang didukung Zionis.

Posted by:  Jim W. Dean, Managing Editor on April 8, 2015

Desember 2014 dari media pers oposisi Turki

Sumber: http://www.veteranstoday.com

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.