Resolusi UNESCO yang menetapkan bahwa tidak ada hubungan apapun antara Masjid al-Aqsa dan Quds dengan Yahudi, mengundang kemarahan dari rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat.

Dalam mereaksi putusan itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Tel Aviv akan mengabaikan resolusi UNESCO dan melanjutkan kebijakan pembangunan pemukiman Zionis di kawasan.

“Organisasi ini telah membuat keputusan yang paling aneh dengan mengatakan bahwa warga Yahudi tidak memiliki hubungan dengan Temple Mount dan Tembok Barat,” tandas Netanyahu.

Pemerintah Amerika Serikat juga menentang keras resolusi UNESCO yang mengakui situs suci al-Haram al-Sharif di Palestina hanya milik umat Islam. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Mark Toner dalam sebuah konferensi pers, Kamis (13/10/2016) mengatakan Washington menentang resolusi UNESCO yang menolak keterkaitan Yahudi dengan al-Haram al-Sharif di al-Quds.

“Kami menyadari resolusi UNESCO yang diputuskan hari ini di Paris. AS sangat menentang resolusi ini,” tegas Toner.

UNESCO pada hari Kamis, meloloskan sebuah resolusi yang menolak segala bentuk hubungan sejarah dan keagamaan atau budaya Yahudi dengan situs-situs suci di al-Quds khususnya Masjid al-Aqsa.

Resolusi yang diajukan oleh Palestina bersama dengan Lebanon, Mesir, Aljazair, Maroko, Oman, Qatar dan Sudan, disetujui oleh 24 anggota dari 58 negara anggota UNESCO. Sebanyak 26 negara memilih abstain, sementara AS, Inggris, Jerman, Belanda, Lithuania dan Estonia memilih menentang resolusi itu.

Resolusi itu mengutuk eskalasi agresi Israel dan langkah-langkah ilegal terhadap kebebasan beribadah dan akses kaum Muslim terhadap situs mereka, al-Haram al-Sharif, dan mendesak rezim Zionis – sebagai kekuatan pendudukan – untuk menghormati status quo bersejarah dan segera menghentikan tindakan itu.

Badan PBB ini juga mengkritik penyerbuan terus menerus terhadap al-Haram al-Sharif oleh ekstrimis sayap kanan Zionis dan pasukan berseragam.

Salah satu tujuan Israel adalah menguasai secara penuh Baitul Maqdis dan ini telah menjadi misi Zionis sejak pertama kali menduduki bumi Palestina. Sejak tahun 2014, Israel melalui agenda pendudukan bertahap di timur al-Quds telah mengintensifkan kegiatan pembangunan ilegal di tanah Palestina.

Tindakan Israel untuk mempertegas pendudukannya di al-Quds bertentangan dengan resolusi 478 Dewan Keamanan PBB, di mana secara tegas meminta dunia untuk tidak mengakui setiap langkah untuk melanjutkan pendudukan dan agresi serta upaya menggabungkan al-Quds ke daerah pendudukan.

Keanggotaan Palestina di UNESCO tampaknya akan menyediakan kesempatan untuk mencegah agresi rezim Zionis dan membantu mewujudkan cita-cita bangsa Palestina.

Sikap UNESCO yang mengecam tindakan Israel di Baitul Maqdis membawa pesan bahwa aksi Zionis sama sekali tidak memiliki legalitas dan masyarakat internasional harus mengambil tindakan segera untuk menghentikan kejahatan Zionis di Palestina. (RM)

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.