Orang-orang Israel bangun pagi pada Sabtu 10 Februari dengan rasa sepat yang kental di mulut. Sejak pagi buta, sirine meraung di kawasan permukiman di utara negeri, di dekat perbatasan Lebanon dan di seputaran Dataran Tinggi Golan, wilayah milik Suriah.

Bungker-bungker perlindungan serangan udara dibuka untuk kalangan pemukim, seiring berjatuhannya roket dari Suriah di sejumlah tempat. Jalan-jalan menuju kawasan utara juga ditutup.

Di Bandara Ben Gurion, lalu lintas penerbangan berhenti total. Pesawat yang sedianya mendarat diperintahkan berputar-putar di atas laut Mediterania, bersabar hingga keadaan aman. Di jantung Tel Aviv, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendadak menggelar rapat darurat dengan lusinan petinggi keamanan. Negera genting.

Pengumuman Pemerintah di kanal televisi dan radio lokal memperunyam suasana. Awalnya, Kementerian Pertahanan Israel mengabarkan keberhasilan mereka menembak jatuh sebuah pesawat nirawak (drone) Iran. “Reruntuhannya jatuh di wilayah Israel dan dalam penguasaan kami,” kata seorang perwira militer di Twitter.

Tapi berganti jam, militer seperti sadar kalau mereka sedang berhadapan dengan gelombang pasang yang besar. Pejabat menyampaikan sebuah jet tempur Israel rusak lalu jatuh. Beberapa saat berselang, muncul versi cerita resmi lainnya: sebuah jet tempur F-16 kena tembak saat terbang melintas di atas al-Sukhna, dekat Palmyra, Suriah.

Belakangan, keterangan lain muncul: empat jet tempur Israel merespons penerobosan sebuah drone Iran di wilayah Daratan Tinggi Golan. Drone sempat berada 1,5 menit di wilayah udara Israel dan berhasil ditembak jatuh. Suriah, menurut penjelasan itu, melesakkan lusinan rudal darat ke udara dan salah satunya mengenai jet F-16. “Ini kali pertama sejak 1983 pesawat kami kena tembak pasukan musuh,” kata seorang juru bicara militer Israel.

Siaran live televisi lokal, yang diunggah publik ke internet, memperlihatkan bangkai jet terbakar dengan serpihan yang berserakan di seputaran Kiryat Ata, timur Haifa, kota industri terbesar Israel. Badan pesawat praktis tak lagi bisa dikenali. Serombongan personel militer bergegas mengerubungi lokasi. Sebuah helikopter SeaHawk terlihat turun mengevakuasi dua pilot. Keduanya berhasil menyelamatkan diri dengan parasut. Satu sampai di darat dengan luka parah, satunya lagi hanya luka-luka ringan.

Di Suriah dan juga di Lebanon, seluruh kekuatan militer sudah lebih dulu siaga penuh, mengantisipasi kemungkinan Israel meradang, menyatakan perang lalu membuka pintu konfrontasi terbuka —yang bisa jadi melibatkan militer Amerika Serikat. Toh, menembak jatuh jet Israel sama saja dengan Damaskus mengirim sinyal siap perang dan menanggung seluruh konsekuensinya.

Dalam tujuh tahun palagan Suriah, ini kali pertama Suriah membalas pelanggaran udara Israel secara serius — dan berhasil. Sebelumnya, Damaskus praktis hanya bersabar melihat serangan udara Israel atas pos-pos dan pergudangan senjata sekutunya, utamanya Iran dan Hizbullah, lantaran tak ingin membuka front baru saat mereka masih berhadapan dengan ISIS dan Al-Qaeda.

“Klaim Israel bahwa sebuah drone menerbos wilayah udara mereka adalah kebohongan yang nyata,” kata ruang komando operasi bersama sekutu di Suriah, dalam sebuah pernyataan di hari yang sama. “Agresi entitas Zionis adalah sebuah tindakan terorisme terkutuk yang tidak bisa lagi kami toleransi. Setiap agresi baru akan kami sikapi serius.”

Jelang siang, kecemasan banyak orang akan pecahnya perang besar perlahan surut. Atas sinyal nyaring dari Suriah itu, Israel ‘membalas’ dengan pengerahan jet ke wilayah Suriah dan mengklaim berhasil menyasar selusin target gudang persenjataan Iran. “Respon IDF (militer Israel) mengakibatkan kerusakan parah pada sistem pertahanan udara Suriah,” kata sebuah rilis Tel Aviv. “Kami menghantam ruang kendali, sistem komunikasi, dan pusat-pusat intelijen Iran.”

Tapi di luar kebiasaan, Israel tak menyertakan footage pengeboman sasaran yang mereka klaim. Tel Aviv juga tak kunjung memperlihatkan rekaman drone Iran yang mereka klaim ditembak jatuh.

Sebaliknya, laporan media-media Suriah di hari yang sama tak menyebut adanya kerusakan dari serangan Israel. Elijah J Magnier, koresponden Al-Rai, koran berbasis di Kuwait, bahkan menyebut serangan itu tak menyentuh satu pun gudang persenjataan, logistik Iran yang tersebar di banyak tempat di Suriah.

Keengganan Israel meningkatkan tempo eskalasi akhirnya terkonfirmasi jelang sore, setelah pihak Rusia buka suara. Menurut seorang pejabat Kremlin, Israel meminta Rusia menengahi agar konflik dihentikan.

Anshel Pfeffer, seorang kolumnis Haaretz, termasuk pihak yang kecewa dengan antiklimaks itu. Dia bilang, tak sekadar kehilangan sebuah jet, insiden itu sekaligus “memukul muruah sebuah negara yang angkatan udaranya memegang rekor tak terkalahkan”.

Di Suriah dan Lebanon, setelah kabar deeskalasi itu tersebar, orang-orang bersuka ria dengan membagikan kue dan manisan di jalan-jalan.Di Lebanon Selatan, sebuah spanduk kilat bertengger di jalan raya seperti mewakili sentimen banyak orang. “Thairatikum saqatat“, ‘pesawatmu sudah kami rontokkan’, kata spanduk dengan hiasan sebuah meme kocak pria mengulum tawa geli.

Setelah insiden itu, ruang analisis di Timur Tengah penuh dengan berbagai teori ihwal keberanian Suriah vis-a-vis keengganan Israel menyalakan perang terbuka. Salah satu teori menyebut Suriah, dengan dukungan penuh Rusia, Iran, Hizbullah, sudah punya tenaga dan kesiapan ekstra lepas berhasil membalikkan cerita pertempuran dan melumat ISIS.

Sekutu juga dikabarkan kian solid dan telah mencapai kesepakatan bahwa setiap agresi atas Suriah bakal diperlakukan sebagai perang bersama, dan ini juga berlaku atas Israel. Spekulasi adanya latar balas dendam dari Rusia ikut disebut. Sepekan sebelumnya, sebuah milisi yang kerap dipayungi militer Amerika berhasil menembak jatuh sebuah jet tempur Rusia. Rusia juga dikabarkan kehilangan sejumlah personelnya setelah sebuah serangan terencana jet tempur Amerika menyasar posisi tentara Suriah yang hendak membersihkan kantong-kantong militan di Deir Ezzor.

Di sisi lain, front dalam negeri Israel dianggap tak siap mental menghadapi konsekuensi perang dan masyarakatnya secara umum senang menikmati pertumbuhan ekonomi dan tak ingin diganggu oleh perang. “Israel kalah dalam pertempuran perdana setelah Damaskus siap,” kata Magnier.

Dari Lebanon, dalam sebuah pernyataan, Hizbullah menyebut penembakan jet Israel itu sebagai “penanda sebuah fase strategis” yang mengakhiri pelanggaran atas wilayah udara dan teritori Suriah. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin, alih-alih menyesalkan jatuhnya jet Israel, justru mendesak Tel Aviv menjauh dari upaya meningkatkan eskalasi di wilayah Suriah. Soal terakhir, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, sepakat. “Semua pihak untuk menurunkan tensi konflik di Suriah,” katanya mencemaskan eskalasi yang bila sampai terjadi, berpotensi melebar ke luar wilayah Suriah.

Dukungan kuat bagi Israel hanya datang dari Amerika. Juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, dalam sebuah pernyataan, menyebut “Israel adalah sekutu kukuh Amerika, dan kami mendukung haknya mempertahankan diri dari Suriah yang didukung Iran dan kekuatan milisi lainnya di selatan Suriah.”

Tapi semua pernyataan itu sukar mengubah fakta di lapangan bahwa Suriah telah menyatakan kesiapan menghadapi agresi udara Israel —apa pun risikonya— dengan menebak sebuah jet tempur Israel di wilayah udara Israel sendiri.  (Yusuf M)

Tags: , ,

Comments are closed.