Konflik yang terjadi di Palestina sampai hari ini tidak  juga kunjung selesai. Bahkan semakin memanas dengan munculnya kebijakan yang kontroversial oleh Presiden AS Trump di ujung tahun 2017 yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Untuk mengulik apa yang sebenarnya terjadi di Palestina, Rektorat Universitas Balikpapan (UNIBA) menggandeng Voice of Palestine (VOP) menyelenggarakan sebuah Seminar Nasional yang mengangkat tajuk Ada Apa dengan Palestina yang dilangsungkan di Conference Room, UNIBA pada Minggu 14 Januari 2018.

Dalam sambutannya, Rektor UNIBA  Dr Piatur Pangaribuan SH, MH menuturkan, keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi titik puncak yang semakin memperkeruh proses alotnya perdamaian di Palestina.

“Di dalam negerinya sendiri, Donald Trump dipertanyakan kebijakannya. Banyak yang protes, apalagi masyarakat luar negeri. Di PBB banyak negara yang tidak setuju,” ujarnya.

Menurut pengamatan Piatur, kedamaian masyarakat beragama yang berada dalam lingkup negara Palestina berjalan seperti biasa, tiada saling membenci apalagi bermusuhan. Kehidupan beragama di sana seperti layaknya suasana di Indonesia.

“Saya sempat saksikan siaran berita televisi Al-Jazeera dan CNN waktu ada natal dan pergantian tahun baru tidak ada perang antar agama. Saling jaga. Hidup damai,” ungkapnya.

Sementara itu, pembicara utama, Ir Mujtahid Hashem dari  Voice of Palestine Indonesia, menuturkan, situasi di Palestina murni penjajahan Israel pada negara Palestina.

Dia mengingatkan bahwa apa yang terjadi di sana bukan konflik Israel dan Palestina, namun merupakan bentuk penjajahan (hegemoni) dari sebuah suatu negara kepada negara lain.

“Israel produk imprealis dunia,” tegas Mujtahid mantab.

Posisi negara Indonesia dalam mamandang kondisi Timur Tengah seharusnya ikut berupaya mendamaikan sebab konstitusi Indonesia mengumandangkan ikut dalam menjaga perdamaian dunia.

“Banyak yang memandang negatif kalau ada yang dukung Palestina. Israel itu penjajah. Rakyat Palestina tidak ada yang mau terusir dari daerahnya sendiri,” ujarnya.

Belum lama ini 7 Desember 2017, Mujtahid  bersama kawan-kawan seperjuangan melakukan kunjungan ke Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Indonesia yang ternyata mereka masih tetap berkomitmen untuk terus berupaya menciptakan kedamaian di Palestina dengan cara-cara yang legal tentunya.

Seminar juga menjadi agenda lanjutan dari VOP Indonesia untuk mengkampanyekan Deklarasi Jakarta yang telah disepakati para wakil rakyat Indonesia di Gedung DPR/MPR pada tanggal 7 Desember 2017 sebagai respon atas atas situasi dan kondisi terkini di Palestina.

Comments are closed.