qudsday2015Hadir sebagai pembicara dalam seminar Internatinal Qods Day (4/7), Dr. Saiful Bahri Ruray selaku Anggota Komisi III DPR RI mengungkapkan bahwa masalah Palestina adalah masalah global. Bicara tentang Palestina tidak lepas dari bicara pula tentang Israel yang menjajahnya.

“Yang salah dalam memperjuangkan Palestina ketika diidentikkan dengan Islam saja,” kata Dr. Saiful Bahri. Ia menambahkan, bahwa di Palestina juga terdapat orang-orang Kristen yang turut pula dalam memperjuangkan tanah kelahirannya. “Palestina juga tidak dideklarasikan sebagai negara Islam,” imbuhnya.

Baik Israel maupun Palestina, diapit oleh banyak negara-negara Arab. Lalu apakah negara-negara Arab itu tak mendukung sepenuhnya Palestina merdeka dan tidak mencegah eksistensi Israel di tanah jajahannya? Faktanya, penjajahan itu langgeng hingga hampir 70 tahun lamanya.

Deny Giovanno selaku panitia penyelenggara mengatakan bahwa seminar tersebut juga dimaksudkan untuk menyadarkan masyarakat agar bisa memahami makna dari perjuangan perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel. “Juga menjadi salah satu cara kami, rakyat Indonesia untuk menunjukkan kepedulian terhadap rakyat Palestina,” imbuh Deny.

Sementara itu, Direktur Voice of Palestine (VOP), Ir. Mujtahid Hashem menekankan pentingnya memperjuangkan hak-hak bangsa Palestina, “salah satunya hak untuk kembali ke tanah kelahirannya.” Ia mengungkapkan, ada sekitar 7 juta rakyat Palestina tinggal di pengungsian.

Dalam konferensi ini juga digelar pameran foto situasi Gaza terakhir pasca perang hasil liputan kru TV Almayadeen Lebanon.

Acara konferensi yang diselenggarakan VOP dan KAHMI Depok yang diakhiri dengan buka puasa bersama itu juga dihadiri oleh perwakilan Kedutaan Besar Iran Valiollah Mohammadi di Jakarta, juga beberapa nara sumber lainnya.

BERKACA PADA PALESTINA

quds-day-wall“Kalau ada penjara paling besar di muka bumi, maka penjara itu adalah Gaza,” kata Ir. Sayuti Asyathri dalamĀ  seminar International Qods Day akhir pekan ini (4/7). Sayuti Asyatri selaku Dewan Penasihat KAHMI Depok ini juga menekankan pentingnya mendorong suara-suara pembelaan terhadap Palestina digaungkan.

Apa yang terjadi di Palestina mungkin hampir semua orang tahu. Tapi tidak semua orang mau bertindak atas pengetahuan itu.

Dr. Ammar Fauzi, peneliti tasawwuf yang juga menjadi pembicara dalam forum itu menjelaskan pentingnya memahami problem Palestina bagi kehidupan manusia.

Ia menggambarkannya dengan puisi Rumi yang mengatakan, “kita seperti ikan dalam toples”. Ammar Fauzi menjelaskan, seekor ikan dalam toples belum tentu memahami betapa pentingnya air bagi dirinya. Barulah ketika ikan itu lompat keluar dari toples, jauh dari air, ia akan baru terasa. Palestina ibarat ikan yang keluar dari air, merasakan penderitaan.

Lalu apa relevansinya dengan rakyat Indonesia?

Walaupun kita tidak seperti Palestina yang seperti ikan keluar dari toples, tapi kita menjadi tahu dan melihat betapa Palestina telah memberi tahu kita selaku “ikan dalam toples” bahwa keluar dari tempatnya dan berpisah dengan air adalah suatu penderitaan. Setidaknya menjadikan kita tidak ingin ‘melompat meninggalkan air’.

“Sadar atau tidak, kita ditolong oleh Palestina,” kata Ammar dalam seminar yang diselenggarakan oleh Voice of Palestine dan KAHMI Depok itu. Palestina juga menjadi cermin bagi semua orang.

Secara fisik memang Indonesia tidak mengalami penjajahan seperti halnya Palestina. Namun, bagaimana dalam hal politik, ekonomi, sosial dan budaya?

Dr. Saiful Bahri dari Anggota Komisi III DPR RI yang juga jadi nara sumber dalam seminar itu mengungkapkan bahwa secara politik Zionis Israel sudah merasuk dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia. “Terutama dana-dana yang masuk ke partai politik yang baru berdiri,” ungkap Saiful Bahri.

Selain itu ia juga mengungkapkan adanya pilot-pilot tempur Indonesia yang dilatih oleh Israel, “bahkan sudah berlangsung lama”.

“Kita sekarang dijajah dalam bentuk shoft power, melalui pinjaman lunak, beasiswa, dll,” pungkasnya.

Dalam seminar yang mengangkat tema “Marginalization of The Basic Right of The Palestinian” tersebut juga dihadiri oleh perwakilan Kedutaan Besar Iran di Jakarta, serta beberapa pembicara lainnya. (Malik)

MELIHAT PALESTINA BUKAN HANYA DARI SATU SISI

quds-day2015Bicara tentang Palestina tak dapat dipisahkan dengan Israel. Keduanya saling terikat antara Palestina yang terjajah dan Israel yang menjajah.

“Kebijakan Pemerintah kita harus tegas! Kalau kita sudah tegas mendukung Palestina, ketegasan seperti apa yang akan dilakukan terhadap Israel?” Kata Irman Abdurrahman dalam sebuah seminar Internasional menyambut peringatan Qods Day pekan depan.

Irman menceritakan bahwasannya PBB turut andil dalam kejahatan yang dilakukan Israel yaitu dengan melakukan votting membagi tanah Palestina menjadi dua bagian dalam resolusi 181. Setelah itu, berlanjutlah menjadi sebuah kejahatan luar biasa sejak 1948 Israel kemudian mengeluarkan kebijakan secara paksa mengusir rakyat Palestina dari tanah kelahirannya.

Ir. Mujtahid Hashem selaku direktur Voice of Palestine (VOP) mengungkapkan, saat ini pengungsi Palestina yang tersebar ke berbagai wilayah jumlahnya mencapai 7 juta pengungsi. Sedangkan kata Irman penduduk Israel saat ini hanya sekitar 5 juta saja. Jumlah yang sedikit itu mampu mengusir rakyat Palestina yang jumlahnya lebih besar, tentu dengan dukungan negara-negara lain seperti Amerika dan sebagainya.

Bekerja sama dengan KAHMI Depok, VOP selaku penyelenggara acara juga menghadirkan pembicara lain diantaranya Dr. Saiful Bahri (Anggota Komisi III DPR RI), Musa Kazhim MA, dan Dr. Ammar Fauzi. Selain itu dihadiri pula perwakilan dari Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Valiollah Mohammadi yang turut memberikan sambutan dalam seminar yang terselenggara pada Sabtu (4/7) siang itu. (Malik)

MENDUKUNG PALESTINA DARI BERBAGAI ASPEK

quds-day-bannerMenyambut Hari International Qods Day pekan depan, Voice of Palestine (VOP) Indonesia bekerjasama dengan KAHMI Depok mengadakan seminar Internasional dengan tema “Marginalization of The Basic Right of The Palestinian”.

“Sejatinya yang kita angkat saat ini bahwa pelanggaran hak asasi atas rakyat Palestina itu masih terjadi,” kata Deny Giovanno selaku panitia penyelenggara acara.

Hal itu menurut Deny, selalu mengingatkannya akan hak-hak bangsa Palestina yang musti dibela.

“Hak asasi yang katanya digadang negara-negara Barat, tapi kenyatannya justru merekalah yang menyokong pelanggaran HAM yang dilakukan Israel terhadap Palestina,” Deny menambahkan.

Sementara itu, Musa Kazhim, MA. salah satu nara sumber dalam seminat itu mengungkapkan bahwasannya paradigma perjuangan rakyat Palestina terbagi menjadi dua jalan, “jalan diplomasi dan jalan peralawanan.” Sebagian yang memilih diplomasi mengaggap, perlawanan tak kunjung membuat rezim Zionis Israel mundur tapi justru makin hari bertambah kuat. Sebaliknya yang memilih perlawanan, menganggap diplomasi juga bukan jalan terbaik, melihat banyaknya penghianatan yang dilakukan Zionis Israel dan pendukungnya.

Musa Kazhim menilai, dua jalan tersebut tak perlu dipertentangkan, “apabila bisa menggabungkan keduanya justru lebih baik.”

Sebab itu menurutnya, secara diplomatik kita dukung, dengan senjata patut kita dukung. “Disini peran bangsa Indonesia bisa sangat membantu, melalui kampanye, melalui media, kita lakukan penyadaran dan kita tunjukkan pada dunia,” pungkasnya.

Acara tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari kedutaan Iran di Jakarta Valiollah Mohammadi dan memberikan sambutan baik atas acara itu.

Acara yang terselenggara pada Sabtu (4/7) ini juga menghadirkan beberapa pembicara lain diantaranya; DR. Saiful Bahri selaku Anggota komisi III DPR RI, DR. Ammar Fauzi, dan Irman Abdurrahman MA.

Dalam konferensi ini juga digelar pameran foto situasi Gaza terakhir pasca perang hasil liputan kru TV Almayadeen Lebanon.(Malik)

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.