nakba-1948
Faktur-faktur yang menggunung serta hari-hari yang dilalui bangsa Palestina yang tetap sabar berjuang di Gaza dan Tepi Barat atau bahkan di sejumlah daerah jajahan tampaknya semakin berat. Slogan yahudisasi terhadap kota-kota Palestina serta kebijakan transfer penduduk membayangi setiap keluarga Palestina di Tepi Barat, sejak tahun 1948.

Hari Ahad 11 April 2010, harian Haaretz mengungkapkan tentang intruksi badan militer Zionis terbaru yang memungkinkan Israel mendeportasi secara langsung puluhan ribu Palestina yang tinggal di Tepi Barat dengan tuduhan menyusup ke wilayah Tepi Barat, karena tak memiliki izin tinggal dari pemerintah Zionis.
Sebenarnya keputusan ini sudah disosialisaikan oleh departemen pertahanan Israel sejak Oktober 2009 dan berlaku efektif sejak 13 April 2010 kemarin. Dengan kebijakan ini, militer Zionis kapan saja dapat mengusir setiap warga yang dianggap penyusup. Lalu siapakah yang dianggap penyusup melalui peraturan ini? Dan bagaimana efek dari keputusan tersebut secara lokal dan regional?
Berkaitan dengan ini, seorang jurnalis, Muhammad Saruji menampilkan makalahnya yang berjudul Palestina dan Nakbah kedua.
Yang didefinisikan sebagai “penyusup” dari Tepi Barat ke Jalur Gaza adalah:

  1. Orang yang berpindah dari Gaza menuju Tepi Barat untuk tujuan mencari kehidupan, akibat terpaan masalah ekonomi di Gaza, setelah keputusan Oslo.
  2. Mereka yang dilahirkan di Gaza kemudian tinggal di Tepi Barat.
  3. Mereka yang kehilangan hak-hak tinggalnya di Tepi Barat dengan berbagai sebab.
  4. Orang asing yang menikah dengan warga Palestina.
  5. Warga Palestina yang tinggal di Al-Quds dan wilayah jajahan 48.

Keputusan ini tentunya sangat tidak adil. Bangsa Palestina sebagai pemilik tanah di Tepi Barat disebut sebagai “penyusup”, sementara kaum penjajah dan perampok tanah Palestina dianggap sebagai “penduduk resmi”. Dengan kata lain, sebutan penyusup hanya bagi bangsa Palestina yang hidup dan lahir di Tepi Barat.  Sementara kaum pendatang dan perampok permukiman Zionis dianggap sebagai penduduk resmi sesuai undang-undang internasional.

Dengan demikian, keputusan tersebut bagaikan bencana kali kedua bagi bangsa Palestina setelah bencana pengusiran tahun 62 lalu. Keputusan ini akan menghukum siapa saja yang dianggap penyusup oleh Israel. Ia akan mengusir atau mendevortasi siapa yang dianggapnya membahayakan Israel di Tepi Barat. Bahkan mungkin pemerintah Palestina sekalipun akan diusir dari Tepi Barat jika mungkin.

Kejadian ini tentu akan berdampak pada kondisi lokal dan regional rakyat Palestina, di antaranya:

  • Akan menambah penderitaaan 70.000 rakyat Palestina dan terusir dari negaranya sendiri.
  • Menambah kepadatan warga Jalur Gaza, ditengah kondisi kehidupan yang dilanda krisis akibat keserakahan Zionis.
  • Mengancam situasi keamanan regional Mesir dan Jordania, akibat ledakan penduduk menyusul masuknya imigran Palestina ke negara tersebut untuk mencari penghidupan sebagai sebuah negara alternatif.
  • Memberangus masalah Palestina, karena tidak ada lagi eksistensi warga Palestina yang tinggal di negara Palestina.
  • Sebagai awalan menuju negara Yahudi di wilayah jajahan 48, berikut Al-Quds dan sebagian Tepi Barat, sebagaimana diminta sejumlah deputi radikal Zionis dan sesuai dengan janji George Michel yang didukung pemerintah Amerika untuk memisahkan dua negara ini secara geografis dan dengan ini maka hapuslah hak kembali warga Palestina ke tanah airnya.
  • Akan timbul kekacauan akibat reaksi masyarakat sekitar negara-negara tetangga yang menolak rencana Zionis ini.

Sekenario Internasional Yang Terus Berulang

Mungkin sebagian orang bertanya-tanya tentang peran masyarakat internasional dalam hal Tim Kuartet, Amerika Uni Eropa, Rusia dan yang lainya. Maka pertanyaan ini bukan pada tempatnya. Karena negara-negara ini telah terserang penyakit aneh. Kadang membisu, kadang mengkhawatirkan, kadang mendukung, kadang berat sebelah. Bahkan jutaan orang di dunia percaya bahwa Zionis dan Amerika adalah dua sisi dari mata uang yang sama.

Kalaulah sebagian mengklaim adanya priksi antara keduanya, namun perbedaan ini hanyalah bersifat semu. Sebagaimana diungkapkan departemen lua negeri Amerika yang menyatakan, keamanan Israel adalah bagian tak terpisahkan dari keamanan regional Amerika. Amerika menginginkan agar Israel menjadi negara terkuat di Timur Tengah. Oleh karena itu, Amerika tidak akan pernah ragu untuk mendukung Israel.

Tags: , ,

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.