bandarariau
Tepat pukul 09.00 WIB, Sabtu 23 April 2011, anggota tim media dari Vop (Voice of Palestine) mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Dua jam kemudian ketua PB HMI, Chozin pun menyusul.  Misi kami adalah sosialisasi Caravan to Gaza dan memotret opini komunitas HMI terhadap kasus Palestina di tengah dinamika aktifitas mereka.

Usman, salah seorang aktivis HMI, menjemput kami dengan sepeda motor menuju markas HMI. Setelah istirahat sejenak, sorenya kami berkesempatan mengunjungi bangunan perpustakan Soeman HS dengan arsitektur modern, terlihat pula Bank BI, Departemen Pajak, kantor Gubernur,  Kapolda, Bank Riau, Hotel Premier,  yang terletak satu kawasan. Kami juga melihat Masjid Agung Annur berdiri megah di sana.
Tanpa disangka, ba’da Magrib, kami sempat berkunjung ke tempat kediaman, Johar Firdaus, Ketua DPRD Propinsi Riau dari partai Golkar, sekaligus ketua KAHMI. Ia berujar, kita mempunyai visi meningkatkan citra melayu. Ada tiga indikasi orang Melayu; Pertama berbahasa Melayu, kedua beragama Islam, dan ketiga keturunan Melayu.
Dalam pertemuan itu, munculah diskusi dinamika problem umat. Tapi, sayang sekali belum sempat menyinggung kasus Palestina, kami sudah harus berangkat menuju tempat Latihan Kader (LK) HMI di Asrama IKKAPAMMA (Ikatan Pelajar Mandah) Pekanbaru. Pasalnya, peserta sudah cukup lama menunggu.
hmi-riau2
Sekitar tiga puluh peserta LK hadir di sana. Acara dibuka dengan reportase Caravan to Gaza yang dilanjutkan dengan diskusi.  Untuk menggugah diskusi, penulis katakan kepada peserta, “Kalian telah menyaksikan dan menyimak reportaseAsian Caravan to Gaza dari saya, bahkan sebelumnya Anda sudah tahu kasus Palestina, lalu apa reaksi Anda?”
Hawa panas malam cukup menyengat dan menganggu, tapi beberapa mahasiswa UIN  Pekanbaru cukup antusias bertanya. Hidayatullah, mencoba bertanya tentang hubungan pelayaran Mavi Marmara dengan blokade Gaza. Ahmad Syahroni, gerah, mempertanyakan kenapa tak ada satupun negara yang berani mengirim pasukan Gaza. Ada lagi, Androko, bertanya tentang efektifitas kemampuan gerakan sipil dunia. Kemudian Alwi, salah seorang pemateri LK mencoba menghadapkan tanggung jawab kader HMI kepada kasus Palestina, apa langkah konkrit untuk membantu kemerdekaan Palestina.
Kemudian penulis sedikit berkomentar, ketika tak ada satu negarapun berbuat banyak (stateless) bagi kemerdekaan Palestina,  jangan pernah meremehkan gerakan sipil. Sejarah negara-negara imperialis dihasilkan dari peperangan dan rekaya-rekaya rumit, tapi selalu kehilangan martabat, banyak para tiran diturunkan dari masyarakat sipil. Indonesia, Filipina, Mesir adalah contoh terdekat. Gerakan internasional berbasis masyarakat sipil, seperti International Solidarity Movement, persatuan bangsa Asian, yang tergabung dalam Asian Caravan to Gaza akan mengulang daftar kesuksesan runtuhnya para tiran.
Diskusi berlangsung kurang lebih satu jam, terlihat peserta memang sebagian sudah mengetahui misi Asian Caravan to Gazadari HMINEWS.com, situs favorit anak-anak HMI MPO. Di samping itu, mereka mendapat info karena PB HMI juga mengirim satu delegasi Asian Caravan to Gaza.
Malam semakin larut, diskusi ditutup, berganti dengan pemateri yang lain, sayup terdengar pengurus cabang Pekanbaru didampingi Chozin, ketua PB HMI membahas soal persiapan konggres HMI ke-28 di Pekanbaru.Karena gelisah, tidak puas dengan diskusi formal dalam acara LK, pagi hari penulis bertanya lebih mendalam dengan dua tokoh HMI Pekanbaru, satu sudah mantan ketua cabang, dan satu lagi masih aktif. Ada tiga pertanyaan yang penulis ajukan, pertama soal antusiasme mahasiswa, kedua kemungkinan materi Palestina jadi agenda rutin LK, ketiga tentang efektifitas dampak gerakan sipil dunia yang marak belakangan.

Eri Iswanto, mantan ketua cabang HMI Pekanbaru 2004-2005, mengatakan sejak dulu kita terus peduli dengan Palestina, bahkan ia pernah melakukan aksi sendirian di kampus untuk membangkitkan dukungan teman-teman. Kita responsif tapi belum bisa menjadi agenda baku materi LK. Kita dukung terus masyarakat dunia bagi terciptanya kedaulatan bangsa Palestina. Ketika ada aksi, kita sering bertemu dengan teman-teman KAMMI menggalang dana bagi untuk Palestina.
Soal apatisme mahasiswa, dia berkomentar, itu tergantung hati. Harusnya pada saat pengkaderan jadi momentum penanaman kepedulian itu. Eri masih ingat ketika diambil sumpah pada tahun 2001, tentang pembelaan umat. Dari situ ia bersumpah untuk membela bangsa Palestina, dan dari sanalah semangat keHMI-an muncul. Eri dulu sering baca yassin dua minggu sekali untuk mengingatkan teman-teman, bahkan sering dianggap gila ketika sendirian di lapangan kampus dengan berdandan layaknya korban Palestina.
Tata Maulana, generasi ke-6, ketua cabang 2010-2011 ini memiliki sudut  pandang yang tak jauh berbeda. Saat mengikuti kasus Mavi Marmawara, kita ikut merasa terluka. Keangkuhan Israel bisa kita lihat dari perasaan mereka sebagai bangsa paling layak dari tiga agama yang lahir di Yerusalem, tapi Israel tidak mau hidup berdampingan dan menjajah Palestina.
Soal kemungkinan kasus Palestina jadi materi LK? Katanya bisa saja, kita ada materi pokok dan materi umum. Nah, di materi pokok ini, keyakinan seorang muslim bisa juga kita kaitkan dengan problematika umat, termasuk kasus Palestina. Kita memiliki peran sebagai hamba dan khalifah. Ada peran kita untuk meningkatkan persaudaraan. Kita memang belum dijadikan materi baku, mungkin sebelum menjadi materi Palestina, kita bisa berikan pengantar-pengantar awal.
Berkaitan dengan apatisme, komentar Tata, kasus Palestina adalah panggilan jiwa, memang kondisi hari ini (politik praktis) cukup mengganggu dan membuat mahasiswa tidak peduli dengan Palestina. Penggalangan dukungan bantuan juga mungkin bisa merangsang mereka untuk peduli.  Untuk  gerakan civil society di seluruh dunia, itu sangat membantu bagi perjuangan bangsa Palestina, contohnya pengakuan kemerdekaan dari negara-negara Amerika Latin, dan sikap tegas pemerintah Turki terhadap Israel terkait kasus Mavi Marmara. Kasus terorisme yang dilekatkan untuk Hamas, menurut Tata itu hanya cara Israel memperlemah palestina untuk memperolah kemerdekaan.
Sayangnya, waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB. Itu artinya kami harus segera berangat ke bandara, karena pesawat take off 09.45 WIB. “Tenang Bang, hanya butuh lima menit sampai bandara, beda dengan Jakarta,” kata Tata menenangkan kegelisahan kami, Kami pun diantar oleh dua ketua HMI cabang Pekanbaru dan Tri, salah seorang penghuni markas HMI Pekanbaru.
Sarapan pagi dilakukan serba kilat. “Kita punya waktu tiga menit, Bang”, kata Tata.
Dengan tangkas Tri mengurus check in pesawat, sementara kami masih sarapan di luar Bandara. Sampai di bandara ternyata pesawat delay 30 menit. Penulis melirik ke arah Chozin. Maklum, penulis masih gelisah ingin berdiskusi tentang dinamika mahasiwa HMI di Pekanbaru. Tapi, mungkin  karena efek begadang dengan yuniornya tadi malam, kepalanya bersandar tidur pulas. Calon pemimpin bangsa ini tampak kelelahan.
Penulis mencoba membuka laptop di ruang tunggu dan menulis satu paragraf, tapi panggilan pesawat terdengar untuk segera bergegas. Terlihat satu bangku pesawat kosong di tengah, sementara penulis di pinggir jendela, dan sang ketua PB HMI duduk di pinggir lainnya. Penulis berharap dia pindah ke tengah sehingga kami bisa kembali berdiskusi.
Pukul 10.00 WIB tanggal 24 April 2011, pesawat yang kami tumpangi meninggalkan bandara Sultan Syarif Kasim II. Panas Pekanbaru menyengat mengikuti pesawat. Pesawat sejajar di udara dan Chozin masih tertidur pulas. Akhirnya kesempatan untuk berdiskusi akhirnya hanya menjadi kegelisan yang menumpuk. Sampai pesawat menukik bandara Sukarno Hatta pun terlihat ketua PB HMI yang sederhana itu masih tetap bermimpi.
Pukul 12.00 WIB, kami turun dari pesawat. Penulis masih merasakan sakit karena tekanan udara, disertai sisa pilek dan demam yang sudah tiga hari tak sembuh. Sambil menahan sakit, penulis terus berusaha berkomunikasi dengan penderitaan orang-orang Palestina yang merindukan kemerdekaan.
Mudah-mudahan misi ekpedisi memotret Palestina dalam pikiran mahasiswa, masyarakat terus berlanjut. Mengapa kasus Palestiana hanya bisa kita rasakan saat mereka sudah berdarah-darah kena dibom. Tidak pada saat mereka masih bisa berkomunikasi dengan kita. Kenapa bencana hasil rekayasa ini tak kunjung selesai. Kami akan terus menjaga kegelisahan ini.
Penulis adalah Muhammad Maruf, anggota Tim Media Vop
Tags: , ,

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.