edi

Edy Wahyudi (40), Insinyur asal Indonesia ini menggeluti dunia sipil sejak 1988. Kini menjadi Kepala Proyek Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Di antara ribuan insinyur sipil Indonesia, nampaknya bapak setengah baya ini istimewa. Dia lebih memilih menjadi seorang relawan Mer-C, dibanding bekerja di perusahaan kontraktor di Indonesia.  Anak seorang pelaut ini, meninggalkan istri dan empat anak, mengabdikan diri jadi relawan di Gaza.

Edy adalah salah satu peserta karafan “The First Asian Caravan to Gaza” dari Indonesia. Setelah sampai Gaza delapan bulan lalu, dua minggu sebelum Revolusi Mesir pecah, bapak empat anak ini tinggal di Gaza hingga sekarang. Apa saja keistimewaan menjadi relawan di daerah konflik, Gaza, berikut kutipan wawancara  dengan VOP Online( 19/8).

Kenapa bapak memilih hidup menjadi seorang relawan, apa enaknya menjadi relawan?

Ayah saya seorang pelaut (kepala kamar mesin), ibu seorang perawat. Sebenarnya saya ingin menjadi ahli mesin, tapi ternyata bakat saya mengikuti kakek, menggeluti dunia sipil. Kenapa saya milih jadi relawan, nampaknya saya tersinpirasi dengan Al-Qur’an:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguh-nya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS: An-Nahl: 97)

Daerah mana aja anda pernah di kirim?

Ya, saya pernah ikut jadi relawan bantuan dan penyantunan di daerah  Flores NTT (Gempa & Tsunami Mauemere Flores 1992), Maluku (pendidikan sekolah anak-anak korban kerusuhan) , Kalimantan, Aceh (Gempa dan Tsunami), Padang, Jambi, Jogjakarta (Gempa), Klaten (letusan G.Merapi). Terakhir menjadi relawan “First Asian Caravan to Gaza”, melewati rute Iran, Turky, Suriah, Libanon, Mesir, sampai di Gaza Palestina. Kemudian kita tinggal di Gaza sampai sekarang, menjalankan amanah untuk menyelesaikan Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza.

Anda seorang Insinyur, kenapa memilih jadi relawan?

Simpel saja mas, saya mencoba untuk mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan manusia di muka bumi ini, dan berharap dapat menjadi manusia yang bermanfaat di jalan kebaikan bagi seluruh alam.

Apa bedanya Gaza dengan daerah bencana yang lain, seperti Yogya pasca meletusnya merapi?

Daerah bencana seperti Yogya, paska meletusnya gunung merapi masih dapat pulih dengan cepat karena kemudahan komunikasi dan distribusi terbuka, akan tetapi perbatasan darat, laut dan udara Gaza ditutup rapat , dan ekonomi amat terpuruk. Blokade Gaza sampai sekarang masih terus berlanjut.

Bapak sampai ke Gaza berbarengan dengan konvoi Asia Caravan to Gaza, apa ada pengalaman unik di perjalanan kemudian sampai di Gaza?

Ya, banyak pengalaman menarik sepanjang perjalanan ke Gaza dengan peserta konvoi, seperti antusiasnya masyarakat setempat sepanjang negara-negara yang kita lalui. Juga hal yang sangat mengharukan penyantunan masyarakat tehadap peserta konvoi. Tapi yang paling menegangkan saat detik-detik di El Arish, kami belum jelas diijinkan masuk gaza oleh pihak mesir, sementara bila menginap berhari-hari maka biaya akan cukup tinggi. Tentara Mesir dengan wajah kurang bersahabat terus berlalu lalang sementara kami berjam-jam tanpa makan dan minum. Saat itu, kami berinisiatif membaca Qur’an Surat Al Fath dari ayat 1 sampai dengan ayat 10 berulang-ulang secara bersama-sama kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Do’a Ahzab oleh ustadz Abdurrahman dari Indonesia. Atas ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala wajah-wajah pasukan-pasukan Mesir yang berada di sekitar kami wajahnya tampak menjadi kecut dan takut. Alhamadulillah setelah hampir tengah malam ditengah haus dan lapar yang mendera, akhirnya kami diijinkan masuk Gaza.

Apa job desk anda dalam proyek pembangunan rumah sakit Gaza?

Saya sebagai pimpinan proyek dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza

Anda bekerja dengan orang asli Gaza, apa bedanya dengan orang Indonesia?
Yang jelas beda bahasa dan karakternya, kita harus cepat beradaptasi, apapun kekurangan mereka, disamping itu kita anggap mereka adalah saudara-saudara kita juga. Sebagai Muslimin adalah satu tubuh. Disamping itu banyak kelebihan-kelebihan mereka, orangnya cerdas, pintar-pintar apalagi keberaniannya dalam menegakan kebenaran sungguh luar biasa.

Dari sudut pandang seorang Insinyur, apa keistimewaan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, berapa lantai, apakah pakai lift, apakah sudah diantisipasi jika bom Israel di jatuhhkan?

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza di desain berbentuk Hexagon seperti Qubahtul Saqhra di kawasan Masjidil Aqsha. RSI sebagai rumah sakit didesain untuk  “Trauma Center & Rehabilitation” dibangun di lahan seluas satu hektar. Rumah sakit  dibangun lima lantai plus Basement dengan kapasitas 100 tempat tidur.  Jenis konstruksi yang digunakan berbeda dengan tipe konstruksi yang ada di kawasan Gaza yaitu kita menggunakan “Full Concrete”, sementara bangunan-bangunan di Gaza hampir seluruhnya menggunakan tipe “Holo blocked”. Kita berdoa, semoga Allah menjaga bangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza dari segala kejahatan yang dilakukan oleh zionis Israel.

Apa bedanya, hidup di Gaza secara langsung dengan hanya tau perkembangan Gaza dari berita?

O,..sangat terasa bedanya, kita bisa merasa dekat dengan masyarakatnya, mereka hidup di tengah kemiskinan, krisis obat-obatan, dan harus menerima hujan bom setiap saat. Bulan Ramadlan ini, pernah zionis menjatuhkan bom pada saat masyarakat Gaza sedang berbuka puasa, sungguh biadab. Puasa Ramadhan di Gaza juga terasa panjang sekali, hampir mencapai 16 jam, suasana panas di siang hari, sementara kita harus memikul amanah agar pembangunan RSI sukses. Akan tetapi, kami yakin akan pertolongan Allah. (VOP/ab)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

WordPress spam blocked by CleanTalk.