Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan, mereka telah menetapkan Ismail Haniyah, eks Perdana Menteri Palestina yang kini Kepala Biro Politik Hamas, dan Harakat Al-Sabireen, kelompok perlawanan Palestina, masuk ke dalam daftar “Specially Designated Global Terrorists” (daftar teroris Amerika). Ketetapan itu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 13224.

“Keduanya disponsori Iran, membahayakan stabilitas Timur Tengah, melemahkan proses perdamaian, dan menyerang sekutu kami, Israel,” ujar Menteri Luar Negeri Amerika, Rex Tillerson, sebagaimana tertulis dalam pernyataan pers Gedung Putih, Rabu 31 Januari. Selain Haniyah dan Harakat Al-Sabireen, keputusan yang sama juga berlaku bagi Liwa al-Thawra dan Harakat Sawa’d Misr, dua kelompok anti-pemerintahan Mesir.

Dengan keputusan tersebut, warga Amerika dilarang melakukan transaksi apa pun dengan Haniyah dan Harakat Al-Sabireen. Semua aset keduanya yang berada dalam yuridiksi Amerika juga akan dibekukan.

Haniyah adalah Perdana Menteri Palestina sejak Maret 2006, saat Hamas memenangi pemilihan legislatif 2006. Menyusul konflik internal Palestina antara Fatah dan Hamas, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mencopot Haniyah dari jabatan tersebut pada Juni 2007.

Tapi, Haniyah tak mengakui keputusan Abbas dan tetap memegang posisi tersebut di Gaza hingga mengundurkan diri pada Juni 2014. Pada Mei 2017, Haniyah terpilih sebagai Kepala Biro Politik Hamas — organ tertinggi di kelompok perlawanan tersebut — menggantikan Khaled Meshal.

Sementara itu, Harakat Al-Sabireen merupakan kelompok perlawanan baru di Palestina. Didirikan pada 25 Mei 2014 oleh eks pejuang Jihad Islam, Hisham Salim, kelompok ini memiliki logo mirip Hizbullah, organisasi perlawanan di Lebanon. Amerika menuding Harakat memiliki hubungan langsung dengan Hizbullah dan Iran.

Menurut Amerika, Harakat beroperasi di Gaza dan Tepi Barat. Pada akhir 2015, kelompok ini menembakkan roket menargetkan patroli serdadu Israel. Kelompok ini juga dituding Amerika berencana membangun pabrik roket di Gaza.

Kemiripan logo Harakat Al-Sabireen dengan Hizbullah memantik tudingan dari kelompok salafi di Palestina bahwa Harakat berlatar belakang Syiah. Namun, seperti dikutip dari al-Monitor, aktivis senior Harakat, Mohammad Harb, menepis tudingan tersebut. Harb menyatakan, hubungan Harakat dengan Iran dan Hizbullah lebih didasarkan pada misi yang sama dalam menghadapi Israel daripada sekedar mazhab.

Harb menjelaskan, Harakat Al-Sabireen lahir dari kalangan muda di Jihad Islam yang menginginkan adanya reformasi di tubuh organisasi tersebut. Mereka menyerukan agar Jihad Islam kembali kepada ideologi pendirinya Fathi Shakaki (1981-1995).

Shakaki sendiri merupakan pengagum Ruhullah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran. Dia pernah menulis buku Khomeini: The Islamic Solution and the Alternative.

Comments are closed.