tetapkan-teroris

VOP Online – Di tengah hiruk-pikuk pilpres dan piala dunia, duka Gaza yang diluluh-lantakkan ratusan bom dari pesawat rezim Zionis Israel seolah tak terdengar. Prihatin dengan hal ini, Kamis (10/7), Voice of Palestine (VOP) Indonesia beserta Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Depok melakukan aksi demo sebagai wujud dukungan dan  solidaritas terhadap nasib bangsa Palestina.
Demo yang dimulai pukul 15.00 WIB itu diadakan di Jl. MH. Thamrin Kav. 3 Kebonsirih Menteng, tepat di depan kantor PBB, dan dihadiri sekitar 80-an orang dari VOP, Garda Merah Putih, HMI, serta masyarakat dari berbagai kalangan.
Demo ini merupakan demo pertama di Indonesia atas serangan Israel ke Gaza bulan Juli ini. Mujtahid Hashem, Direktur Voice of Palestine yang ikut dalam demo ini menyebutkan demo ini memang diharapkan bisa membangkitkan para aktivis lain melakukan hal yang sama. Untuk menyampaikan pesan perlawanan bagi rezim Zionis Israel.

Mujtahid menyatakan dua tuntutan Voice of Palestine kepada PBB; 1. Menuntut PBB menetapkan rezim Zionis sebagai kelompok teroris, dan 2. Menuntut PBB mengukuhkan kembali bahwa Zionisme itu pada dasarnya rasism, apartheid, dan anti kemanusiaan.

Sementara Muttakin Renhoran, anggota HMI cabang Depok selaku korlap demo, menyebutkan bahwa demo ini merupakan keputusan rapat harian HMI saat membahas isu internasional. HMI menuntut PBB memerdekakan Palestina yang sampai hari ini masih dijajah Zionis Israel.

Demo solidaritas Palestina ini tak hanya diikuti oleh mahasiswa HMI dan aktivis VOP, banyak kaum perempuan, dan bahkan anak kecil yang ikut serta. Salah satunya Nani Isnaeni. Beserta suami dan anak perempuannya yang baru berumur 5 tahun, Kautsar Rapah, Nani jauh-jauh dari Karawang ke Jakarta untuk ikut demo.

“Saya tidak tega melihat anak-anak kecil di Palestina,” ucap Nani dengan suara bergetar. Sambil melirik anak perempuannya ia  melanjutkan, “Ya Allah pokoknya tak bisa dibayangkan. Kita tak bisa membantu apa-apa selain demo seperti ini…”

Mujtahid menuturkan, demo hari ini akan dilanjutkan Sabtu (12/7) besok di depan Kedubes Amerika. Demo ini akan dilakukan serentak di 10-15 kota seluruh Indonesia dengan massa yang lebih banyak.

“Bulan Ramadhan bukan cuma bulan kasih sayang, tapi juga bulan perlawanan terhadap ketidakadilan. Setelah hati kita bersih, barulah kita berjuang untuk keadilan. Bulan Ramadhan adalah bulan Perlawanan,” tegas Mujtahid. (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

WordPress spam blocked by CleanTalk.